KUDUS – Pemerintah mulai memperkuat pendidikan anak usia dini melalui kebijakan baru yang memasukkan pendidikan taman kanak-kanak (TK) ke dalam Program Wajib Belajar 13 Tahun.
Bersamaan dengan itu, peserta didik TK dari keluarga yang memenuhi kriteria juga mulai menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) mulai tahun ini.
Kebijakan tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Kudus.
Baca Juga: Lima SD Negeri di Kudus Baru Dapat Tiga hingga Empat Murid
Abdul Mu’ti mengatakan pendidikan anak usia dini merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter, kemampuan belajar, dan kualitas sumber daya manusia.
Karena itu, pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap jenjang PAUD dan TK.
"Program wajib belajar sekarang dimulai dari taman kanak-kanak. Karena pendidikan anak usia dini adalah fondasi yang menentukan keberhasilan pendidikan pada jenjang berikutnya," ujarnya.
Ia menjelaskan, mulai tahun 2026 peserta didik TK yang masuk kategori penerima Program Indonesia Pintar akan memperoleh bantuan sebesar Rp450 ribu per tahun.
Secara nasional, pemerintah menargetkan sekitar 888 ribu murid TK menjadi penerima manfaat program tersebut.
Menurutnya, kebijakan ini merupakan bentuk keberpihakan pemerintah untuk meningkatkan akses pendidikan sejak usia dini sekaligus mendorong meningkatnya angka partisipasi sekolah pada jenjang pra-sekolah.
Selain memberikan bantuan kepada peserta didik, pemerintah juga memperkuat kualitas tenaga pendidik melalui penyediaan beasiswa pendidikan bagi guru yang belum memiliki kualifikasi sarjana (S1).
"Tahun ini kami menyediakan sekitar 150 ribu kuota beasiswa bagi guru yang belum S1, baik guru negeri maupun swasta, termasuk guru PAUD, TK, dan pendidikan nonformal. Beasiswa diberikan sebesar Rp3 juta per semester melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL)," jelasnya.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga terus meningkatkan kompetensi guru melalui program Satu Hari Belajar Guru yang dilaksanakan secara rutin dengan melibatkan Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP), Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK), serta komunitas guru di berbagai daerah.
Abdul Mu’ti menilai guru TK memiliki peran yang sangat penting karena menjadi pendidik pertama yang membangun karakter, kebiasaan belajar, serta perkembangan sosial anak sebelum memasuki jenjang pendidikan dasar.
"Kalau pendidikan diibaratkan menanam pohon, maka pendidikan anak usia dini adalah menanam akar. Akar yang kuat akan menghasilkan pohon yang kokoh. Karena itu guru TK memiliki tugas yang sangat mulia," katanya.
Ia juga mengingatkan agar proses pembelajaran di taman kanak-kanak tidak terlalu berorientasi pada kemampuan akademik. Menurutnya, pendidikan usia dini harus lebih menitikberatkan pada pembentukan karakter, kemampuan motorik, kreativitas, perkembangan bahasa, keberanian, serta kemampuan bersosialisasi.
"Jangan sampai anak TK dibebani pelajaran yang tidak sesuai usianya. Yang paling penting adalah mereka senang belajar, tumbuh percaya diri, mengenal aturan sosial, dan memiliki karakter yang baik," pungkasnya. (san)
Editor : Abdul Rochim