RADARPATI.JAWAPOS.COM - Menanam cabai secara mandiri bisa menjadi salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga. Meski memiliki lahan terbatas, masyarakat tetap dapat memanfaatkan pekarangan atau ruang yang tersedia untuk bercocok tanam.
Pengalaman selama pandemi menunjukkan bahwa kegiatan bertani dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk pemula. Berbagai panduan juga mudah ditemukan melalui platform digital maupun dengan belajar langsung dari petani. Meski demikian, prosesnya membutuhkan kesabaran dan ketelatenan agar tanaman tumbuh dengan baik.
Hal tersebut dirasakan Suprihatin (59), warga Dusun Jowah, Kalurahan Sidoagung, Kapanewon Godean, Sleman. Ia mengajak ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalnya untuk menanam cabai secara mandiri.
Bagi Suprihatin, berkebun bukan sekadar kegiatan menghasilkan bahan pangan, melainkan juga memberikan kepuasan tersendiri ketika melihat tanaman tumbuh hingga berbuah.
“Bagiku menanam itu ya senang-senang aja. Karena kalau kita sudah merasakan, menanam, menghasilkan, itu sangat memuaskan. Seperti kita memelihara, membimbing, dan mendidik anak. Pokoknya senang saja, kita melihat menanam, tumbuh, berbuah. Nah itu kepuasan tersendiri,” ujarnya.
Berikut sejumlah tahapan menanam cabai berdasarkan pengalaman Suprihatin dan panduan budidaya yang dikutip dalam sumber.
1. Menyiapkan Lahan dan Media Tanam
Langkah pertama adalah menyiapkan lahan serta media tanam yang sesuai. Salah satu pilihan yang dapat dimanfaatkan ialah pupuk organik dari bahan alami, seperti kotoran hewan, daun kering, dan ranting pohon yang telah mengalami proses penguraian.
Suprihatin menjelaskan, daun dan ranting yang dikumpulkan kemudian dibiarkan membusuk dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah. Cara ini juga membantu mengurangi ketergantungan pada pupuk yang dibeli.
“Daun-daun atau ranting-ranting kalau kita proses menjadi pupuk itu akan menjadi luar biasa. Kita nggak perlu beli pupuk. Itu contohnya saja. Jadi kalau ada ranting dan daun itu kita kumpulkan, kita timbun sampai mereka membusuk. Nanti buat menanam sudah subur banget. Itu termasuk hayati,” jelasnya saat diwawancarai pada Senin (9/2).
Untuk kebutuhan persemaian, media tanam dapat disesuaikan dengan metode yang digunakan. Persemaian menggunakan bedengan bisa memanfaatkan campuran tanah dan pupuk organik matang, sedangkan penggunaan tray dapat menggunakan campuran tanah, arang sekam, dan pupuk kandang matang.
Media tanam sebaiknya disiapkan sekitar satu minggu sebelum benih disemai agar siap digunakan.
2. Menyiapkan dan Menyemai Benih Cabai
Setelah media tanam tersedia, tahap berikutnya adalah menyiapkan benih. Mengacu pada panduan yang dikutip dari Pertanian.go.id, benih cabai dapat disemai dalam kotak semai atau polybag kecil berukuran sekitar 8 x 10 sentimeter.
Media semai yang disebutkan dalam panduan tersebut terdiri atas tanah halus, pupuk kandang matang, serta bahan tambahan sesuai rekomendasi budidaya. Benih juga dapat direndam dalam air hangat selama sekitar 20–24 jam sebelum disemai.
Bibit perlu dirawat hingga cukup kuat untuk dipindahkan ke lahan utama. Dalam panduan yang dikutip, pemindahan dilakukan ketika bibit berusia sekitar 17–23 hari. Penanaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari untuk membantu mengurangi risiko bibit layu akibat panas.
Perlu diperhatikan bahwa komposisi media semai, penggunaan pupuk, dan jarak tanam harus disesuaikan dengan varietas cabai serta petunjuk budidaya yang digunakan.
3. Merawat Tanaman secara Rutin
Perawatan menjadi bagian penting dalam budidaya cabai. Tanaman perlu disiram sesuai kebutuhan air dan kondisi cuaca, sementara pertumbuhannya harus dipantau secara berkala agar gangguan dapat diketahui sejak dini.
Suprihatin mengingatkan pentingnya menangani tanaman yang terserang penyakit. Jika ditemukan gejala penyakit pada batang, bagian tanaman yang terinfeksi perlu ditangani dengan tepat agar risiko penyebaran ke tanaman lain dapat dikurangi.
Selain penyiraman dan pemantauan, perawatan cabai juga dapat meliputi pemeriksaan kondisi lahan, pemberian pupuk susulan sesuai kebutuhan, serta pemangkasan tunas tertentu untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Pengendalian hama dan penyakit perlu dilakukan berdasarkan jenis gangguan yang ditemukan. Dengan begitu, tanaman dapat tumbuh lebih sehat dan berpotensi menghasilkan panen yang optimal.
4. Memanen dan Mengolah Kembali Lahan
Menurut pengalaman Suprihatin, tanaman cabai membutuhkan waktu sekitar tiga bulan hingga mulai menghasilkan buah. Setelah memasuki masa produksi, pemetikan dapat dilakukan secara bertahap selama beberapa bulan, bergantung pada kondisi tanaman dan varietasnya.
Suprihatin bersama ibu-ibu di lingkungannya pernah mengelola kebun cabai di lahan seluas sekitar 200 meter persegi. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kegiatan berkebun dapat dilakukan secara bersama-sama dengan memanfaatkan lahan yang tersedia.
Setelah masa panen berakhir, lahan dapat digunakan kembali untuk menanam cabai. Namun, tanah perlu diolah dan kondisi media tanam diperbaiki terlebih dahulu agar kesuburannya tetap terjaga.
Dengan persiapan yang tepat, perawatan rutin, serta kesabaran, menanam cabai secara mandiri dapat menjadi kegiatan produktif bagi rumah tangga. Selain membantu menyediakan bahan pangan, berkebun juga memberi kesempatan bagi masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan dan belajar menghasilkan pangan sendiri. (*)
Editor : Zakarias Fariury