Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

FASHION : Preppy Look Ala Jepang, Gaya Klasik yang Tak Pernah Kehilangan Pesona

Abdul Rochim • Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:58 WIB

CASUAL PREPPY: Sarasenti menampilkan gaya casual preppy ala Jepang dengan paduan overshirt biru muda, kaus hitam, jeans wide leg, loafer hitam, dan aksen kaus kaki hijau yang menjadi titik fokus penampilan. (SARASENTI UNTUK RADAR PATI)
CASUAL PREPPY: Sarasenti menampilkan gaya casual preppy ala Jepang dengan paduan overshirt biru muda, kaus hitam, jeans wide leg, loafer hitam, dan aksen kaus kaki hijau yang menjadi titik fokus penampilan. (SARASENTI UNTUK RADAR PATI)

RADAR PATI - Tren preppy look kembali mencuri perhatian pecinta fashion. Identik dengan kemeja Oxford, blazer, loafer, dasi, hingga denim berpotongan klasik, gaya ini tampil dengan interpretasi baru lewat American Traditional (Ame-Tra) dari Jepang. 

Alih-alih sekadar meniru busana Amerika era 1950–1960-an, Ame-Tra justru mengembangkan gaya tersebut menjadi identitas fashion yang lebih rapi, fungsional, dan sarat perhatian terhadap detail.

Fashion enthusiast Sarasenti menilai daya tarik preppy look Jepang terletak pada kemampuannya memadukan gaya klasik dengan sentuhan modern tanpa kehilangan karakter aslinya. 

Baca Juga: STONE GARDEN Lembah Manah, Wisata Hidden Gem Perbukitan Sluke Rembang yang Sajikan Nuansa Negeri Dongeng

Menurutnya, setiap elemen dalam busana memiliki fungsi dan saling melengkapi sehingga menghasilkan tampilan yang sederhana, namun tetap berkelas.

"Preppy Jepang bukan hanya soal memakai kemeja atau blazer. Yang membuatnya menarik adalah cara memadukan setiap item sehingga terlihat effortless, clean, dan tetap elegan. Bahkan aksesori kecil seperti dasi, scarf, atau warna kaus kaki bisa menjadi statement," ujarnya.

Sarasenti menjelaskan, gaya Ame-Tra berakar dari interpretasi masyarakat Jepang terhadap busana Ivy League Amerika dan workwear klasik. 

Namun, seiring waktu, gaya tersebut berkembang menjadi identitas tersendiri yang lebih mengutamakan kualitas material, potongan pakaian, hingga keseimbangan warna.

"Kalau diperhatikan, mereka jarang memakai warna mencolok. Paletnya cenderung netral seperti putih, biru, hitam, olive, cokelat, atau krem. Justru dari kombinasi warna yang sederhana itu muncul kesan mewah," katanya.

Casual Denim yang Simpel, tetapi Berkarakter
Pada tampilan pertama, Sarasenti mengenakan kaus hitam polos sebagai base layer yang dipadukan dengan overshirt biru muda berlengan panjang.

Celana jeans wide leg memberi siluet santai, sementara loafer hitam menghadirkan nuansa klasik khas Ame-Tra.

Detail yang paling mencuri perhatian justru hadir lewat kaus kaki hijau. Warna tersebut menjadi aksen yang menghidupkan keseluruhan tampilan tanpa terasa berlebihan.

"Ini contoh bahwa outfit bagus tidak harus ramai. Justru detail kecil seperti kaus kaki berwarna bisa menjadi pusat perhatian ketika keseluruhan outfit sudah seimbang," jelasnya.

Ivy League dengan Sentuhan Utility
Look kedua menghadirkan nuansa kampus Ivy League yang lebih formal. Kemeja putih dipadukan dengan dasi merah bermotif geometris, lalu dilapisi jaket berwarna olive bergaya militer.

Celana krem berpotongan lurus dan loafer hitam menyempurnakan keseluruhan tampilan.

Menurut Sarasenti, dasi bukan hanya pelengkap, tetapi menjadi titik fokus yang menghidupkan outfit.

Sementara jaket olive memberikan kesan kasual sehingga tampilan formal tidak terlihat terlalu kaku.

"Kalau hanya memakai kemeja dan dasi mungkin akan terasa sangat formal. Begitu ditambah jaket olive, kesannya langsung lebih santai dan modern," ujarnya.

Tas bahu kulit hitam semakin memperkuat nuansa vintage sekaligus tetap fungsional untuk aktivitas sehari-hari.

Vintage Preppy dengan Sentuhan Feminin
Pada outfit ketiga, Sarasenti memilih atasan rajut putih yang dipadukan dengan jeans biru berpotongan longgar.

Scarf bermotif klasik dikenakan di leher sebagai pengganti aksesori kalung, sementara tas kulit cokelat bergaya vintage menjadi pelengkap utama.

Menurutnya, scarf merupakan salah satu aksesori yang mulai kembali diminati karena mampu memberikan karakter kuat pada outfit sederhana.

"Scarf bisa mengubah penampilan yang sangat basic menjadi terlihat lebih klasik. Dipadukan dengan tas kulit vintage, hasilnya terasa timeless," katanya.

Smart Casual yang Mudah Ditiru
Look terakhir menawarkan gaya paling sederhana sekaligus mudah diterapkan dalam keseharian. Blazer hitam dikenakan di atas kaus hitam polos, dipadukan dengan jeans biru dan loafer hitam.

Sarasenti mengatakan perpaduan tersebut menunjukkan bahwa gaya preppy tidak selalu identik dengan kemeja dan dasi.

Blazer yang dipadukan denim justru menghasilkan tampilan smart casual yang fleksibel digunakan untuk bekerja, menghadiri acara semi formal, hingga sekadar berkumpul bersama teman.

"Siluet longgar menjadi ciri khas gaya Jepang saat ini. Tetap rapi, tetapi tidak terlalu ketat sehingga nyaman dipakai seharian," tuturnya.

Ia menambahkan, filosofi utama Ame-Tra bukan mengejar tren sesaat, melainkan membangun lemari pakaian yang berisi item klasik berkualitas tinggi dan mudah dipadukan dalam berbagai kesempatan.

"Karena itu gaya ini terasa tidak lekang oleh waktu. Satu blazer, satu loafer, satu kemeja putih, atau denim berkualitas bisa dipakai bertahun-tahun dan tetap terlihat relevan," pungkasnya. (int)

Editor : Abdul Rochim
#preppy look #fashion gaya klasik #fashion #jepang