Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

MENCICIPI Legitnya Kuliner Kue Yopia Khas Lasem , Kriuk di Luar dan Manis di Dalam

Abdul Rochim • Sabtu, 13 Juni 2026 | 12:23 WIB
LEGIT: Kue Yopia khas Lasem Rembang.
LEGIT: Kue Yopia khas Lasem Rembang.

 RADAR PATI - AROMA wangi karamel menyergap hidung saat memasuki di rumah milik pasangan Waras-Toni Haryanto di kawasan Pecinan Lasem, Karangturi.

Di sinilah, di antara dinding rumah kuno berasitektur Tionghoa, kuliner legendaris kue yopia tetap bertahan melintasi zaman.

Oleh : Wisnu Aji

Hidangan akulturasi ini bukan sekadar buah tangan, melainkan simbol rekatnya toleransi yang terjaga ratusan tahun.

Baca Juga: WARUNG KULINER IKAN BURUNG BU MUN DI KALIREJO KUDUS Bertahan hingga Tiga Generasi

Secara tampilam, yopia sekilas mirip bakpia Yogyakarta. Namun, begitu digigit, sensansinya sangat berbeda. Kulit luarnya super tipis dan renyah.

Bagian dalam kopong, hanya menyisakan lapisan caramel gula jawa yang melekat di dinding kulit kue.

Perpaduan tekstur kriuk dan rasa manis bikin ketagihan.

Wartawan Koran ini pada Kamis lalu (11/6) berkesempatan melihat langsung proses pembuatan kue dibalik dapur.

Kue itu diracik dan dibuat ibu dan anak.

Nama ibunya Waras, 81 dan anaknya Toni Haryanto, generasi ke-4 keluarga pemilk resep kue yopia.

Kue yopia merupakan khas Lasem. Ia sudah bergelut membuat kue sejak masih duduk di bangku kelas 3 SD hingga sekarang.

”Biasanya digunakan untuk oleh-oleh, bukan sembahyangan,” katanya.

Proses membuat adonan cukup lama. Bisa memakan waktu setengah hari.

Teknik pembuatan kue yang berlapis renyah mengadopsi kuliner Tiongkok.

Sementara isinya menggunakan gula jawa asli produk lokal. Kolaborasi ini menciptakan harmoni yang pas di lidah siapa saja.

”Proses membuat adonan mulai pukul 01.00 dini hari sampai 06.00 pagi. Setelah itu dipotong-potong dan di isi gula dan gilas baru dimasukan pemanggang,” terangnya. 

Menyambung Toni menceritakan bergelut bikin kue yopia sejak masih sekolah SMP membantu ibunya. Sempat vakum kerja di luar.

Lalu kembali ke Lasem. Kebetulan ibunya sudah tua dan habis sakit sehingga meneruskan usaha.  

”Hampir kayak ndog gludug, mas. Cuma ini dalamnya kopong,” kata Toni kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Pembuatan kue yopia berdasarkan momen.

Tidak bisa dipastikan waktunya. Waktu Imlek atau Lebaran pun sama.

Ketika ada permintaan dari toko maupun tamu baru produksi. Ini untuk menjaga kualitas.

Seperti Kamis lalu (11/6) dalam sekali pembuatan 300 biji. Satu bok isinya 10 biji dibanderol Rp 40.00 ribu.

Harga ini menyesuaikan bahan yang dipakai saat ini. Tentu sangat terjangkau untuk digunakan nyemil.

”Kue yopia isinya tepung terigu dan gula aren. Cocok dimakan pagi hari dengan hidangan kopi,” terangnya.

Toni membenarkan dalam proses pembuatan kue yopia, dini hari sudah bangun.

Pagi pukul 01.00 memulai membuat kulitnya. Menurutnya ini waktu yang pas membikin adonan, karena suhu udara masih dingin.

Selanjutnya ada juga proses pengisian. Proses pengisian dibantu ibunya. Semua dilakukan secara manual peralatanya. Seperti alat gilas dari kayu.

Setelah adonan terisi, baru dimasukkan dalam sebuah open dengan ukuran yang besar.

”Buat adonan dini hari. Sekitar 08.30 sudah selesai, tinggal memasukkan bok. Kalau pemanggangan tidak sampai 5 menit sudah matang,” imbuhnya.

Yopia bukan sekadar camilan, melainkan bukti nyata asimilasi budaya Tionghoa dan Jawa di Lasem Kota Pusaka.

 Para pelancong yang berkunjung ke Lasem, bisa berburu yopia hangat langsung dari tungkunya.

Bisa datang dan janjian di rumah pembuat kue yopia, di Desa Karangturi gang 7 nomor 14, Lasem.

Nantinya akan menjumpai baner bertuliskan nama kue dan merek ”kupu-kupu”. (noe/him)

Editor : Abdul Rochim
#kuliner Lasem #Kue Yopia #rembang