Wilayah Kekeringan Meluas di Kudus, Kini Tiga Desa Terdampak

Galih Erlambang Wiradinata • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 18:47 WIB
MELUAS: BPBD Kudus menyalurkan bantuan air bersih ke Desa Glagahwaru, Undaan, Kudus kemarin. (GALIH ERLAMBANG W/ RADAR PATI)
MELUAS: BPBD Kudus menyalurkan bantuan air bersih ke Desa Glagahwaru, Undaan, Kudus kemarin. (GALIH ERLAMBANG W/ RADAR PATI)

KUDUS – Dampak kekeringan akibat kemarau berkepanjangan di Kabupaten Kudus semakin meluas.

Jika sebelumnya hanya satu desa terdampak, kini krisis air bersih telah terjadi di tiga desa yang tersebar di tiga kecamatan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus mencatat, tiga desa yang mengalami kekurangan air bersih.

Yakni Desa Glagahwaru di Kecamatan Undaan, Desa Colo di Kecamatan Dawe, dan Desa Setrokalangan di Kecamatan Kaliwungu.

Baca Juga: Acungkan Sajam di Jalan, 11 Remaja “Gangster Amerika” di Kudus Diciduk

Secara keseluruhan, sebanyak 727 kepala keluarga (KK) atau sekitar 2.096 jiwa terdampak kekeringan dan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kudus Eko Hari Djatmiko melalui Kepala Seksi Kedaruratan Ahmad Munaji mengatakan, Desa Setrokalangan menjadi wilayah terbaru yang mengalami krisis air bersih.

Kekeringan di Kabupaten Kudus kini meluas di tiga desa, yakni Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Desa Colo, Kecamatan Dawe, dan Desa Glagahwaru, Kecamatan Undaan.

"Desa Setrokalangan menjadi wilayah terbaru yang mengalami kekurangan air bersih," katanya.

Kekeringan di Desa Setrokalangan mulai terjadi sejak Selasa (18/8/2026). Sebanyak 81 KK atau 268 jiwa yang tersebar di RW 2 dan RW 3 terdampak krisis air bersih.

Sementara itu, Desa Colo, Kecamatan Dawe, mulai mengalami kekeringan sejak 9 Agustus 2026. Sebanyak 50 KK atau sekitar 150 jiwa di RT 4 RW 1 mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

Adapun Desa Glagahwaru, Kecamatan Undaan, menjadi wilayah yang paling lama terdampak. Kekeringan telah berlangsung sejak 15 Juli 2026 atau lebih dari satu bulan.

Di Desa Glagahwaru, sebanyak 596 KK atau sekitar 1.678 jiwa terdampak. Warga yang mengalami kesulitan air bersih tersebar di RW 1, RW 2, RW 3, dan RW 5.

Untuk memenuhi kebutuhan warga, BPBD Kudus rutin menyalurkan bantuan air bersih ke tiga desa terdampak. 

Selain dropping air, BPBD juga menyiapkan sejumlah tandon di beberapa titik untuk menampung pasokan air bagi masyarakat.

"Tandon yang kami siapkan terdiri tiga unit berkapasitas 5.000 liter, tiga unit berkapasitas 2.000 liter, satu unit berkapasitas 1.000 liter, dua unit berkapasitas 500 liter, serta satu unit berkapasitas 250 liter," imbuh Munaji.

Hingga kini, BPBD Kudus telah menyalurkan sekitar 435.000 liter air bersih ke Desa Glagahwaru. Sementara Desa Colo telah menerima sekitar 18.000 liter dan Desa Setrokalangan sebanyak 10.000 liter.

BPBD Kudus mengimbau masyarakat menggunakan air bersih secara bijak dan menghemat pemakaian, mengingat musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober 2026. (gal/him)

 

Editor : Abdul Rochim
kekeringan Kudus Desa Glagahwaru krisis air bersih Kudus Desa Setrokalangan bpbd kudus