
KUDUS – Tradisi Guyang Cekathak kembali digelar warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, Jumat (4/9).
Ritual membasuh pelana kuda peninggalan Sunan Muria tersebut diikuti ratusan peserta di kompleks Masjid dan Makam Sunan Muria.
Peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai warga, pedagang, mahasiswa, perangkat desa hingga komunitas ojek.
Tradisi yang digelar setiap Jumat Wage saat musim kemarau itu diawali sekitar pukul 07.00 dengan pembacaan tahlil di aula masjid.
Usai doa dan selawat, pelana kuda atau cekathak diarak menuju Sendang Rejoso yang berjarak sekitar 500 meter. Arak-arakan dipimpin juru kunci dengan iringan selawat dan tabuhan terbang papat.
Setibanya di sendang, pelana dibasuh menggunakan air yang dicampur taburan bunga. Prosesi tersebut dilakukan sambil memanjatkan doa dan selawat. Bagi masyarakat, Guyang Cekathak bukan sekadar tradisi, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap Sunan Muria sekaligus upaya menjaga warisan leluhur.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria (YM2SM) Mastur mengatakan, pelaksanaan tahun ini berlangsung lancar. Antusiasme masyarakat juga dinilai meningkat.
“Alhamdulillah, antusias masyarakat meningkat. Ada pedagang, mahasiswa, perangkat desa, hingga masyarakat umum. Semua ikut larut dalam suasana kebersamaan,” ujarnya.
Menurut Mastur, guyang berarti memandikan, sedangkan cekathak merupakan pelana kuda. Dalam kisah yang dipercaya masyarakat, dahulu Sunan Muria memandikan kudanya di Sendang Rejoso yang juga dipercaya sebagai salah satu tempat beliau berwudu.
“Kudanya memang sudah tidak ada, tapi pelana tetap kita mandikan sebagai simbol penghormatan. Tradisi ini menjadi pesan moral bagi generasi penerus untuk mengenang perjuangan beliau,” jelasnya.




