KUDUS — Tradisi salin luwur di makam kembali digelar khidmat pada bulan Muharam.
Prosesi inti yang menjadi puncak rangkaian haul itu berlangsung sejak pagi hari dan sarat makna, mulai dari pergantian kain penutup makam hingga pembagian ribuan nasi pincuk kepada masyarakat.
Dewan Pengarah Salin Luwur Sunan Muria, Almastur (73), mengatakan prosesi salin luwur dimulai selepas Subuh dengan persiapan kain-kain yang akan dipasang di area makam.
Seluruh luwur ditata sesuai urutan pemasangan sebelum dibawa masuk ke cungkup makam dengan iringan terbang papat dan lantunan sholawat.
Baca Juga: Bupati Sam'ani Wujudkan Program Bantuan Rumah Layak Huni di Kudus, Sepanjang 2025 Sejumlah 254 Unit
”Setelah subuh itu kita siapkan luwur, ditata sesuai urutan masuk makam. Setelah itu diberangkatkan dengan terbang papat, sholawat, lalu masuk makam, baca Yasin dan tahlil sambil menunggu pemasangan,” ujar pria yang akrab disapa Mbah Mastur.
Ia menjelaskan, pemasangan luwur dilakukan sekitar tujuh orang di dalam makam.
Jumlah itu bukan aturan baku, melainkan disesuaikan dengan kondisi ruang yang terbatas.
Proses pemasangan biasanya memakan waktu sekitar dua jam, dimulai pukul 06.30 WIB hingga sekitar 08.30 WIB.
Menurutnya, struktur luwur yang dipasang tidak sederhana. Untuk bagian yang mengelilingi makam, terdapat susunan kain sab dua, sab tiga, lalu sab dua lagi, yang jika dihitung total menjadi tujuh lapis.
Di bagian atas atau lajer yang menaungi makam dipasang sembilan lapis kain, ditambah sarung rangkap dua sebagai pelengkap langit-langit makam.
”Kalau dihitung keseluruhan, bagian atas itu sebelas lapis. Ini warisan dari dulu, bahasanya tetap kami pertahankan, seperti sab, lajer, wiron, dan kompol,” katanya.
Selain kain luwur, ada pula ornamen wiron panjang dan pendek yang dipasang di sisi barat, timur, utara, selatan, serta pintu masuk makam.
Sementara kompol atau hiasan menyerupai bunga dipasang di enam titik, terdiiri dari empat sudut utama dan dua di pintu masuk.
Tradisi itu juga dilengkapi bunga tabur berupa melati, mawar, dan kenanga. Khusus bunga melati kuncup, dirangkai khusus untuk menutup nisan. Mbah Mastur menyebut ukuran tutup nisan diperkirakan sekitar 190 sentimeter x 70 sentimeter, dilapisi kain putih di bagian dalam dan hijau di bagian luar.
Luwur lama yang telah dilepas nantinya dibagikan kepada masyarakat.
Sebagian warga percaya kain bekas luwur membawa berkah dari Sunan Muria, sehingga kerap disimpan, dijadikan peci, baju, hingga rida.
”Ini niatnya ngalap berkah. Ada yang koleksi, ada yang dibuat pakaian,” jelasnya.
Tak hanya prosesi penggantian luwur, rangkaian haul juga diwarnai pembagian ribuan nasi berkah.
Tahun ini, panitia menyiapkan sekitar 5.000 nasi pincuk untuk jamaah pengajian, 7.000 besek untuk warga Desa Colo dan sekitarnya, 900 jubung berkat usai prosesi, 1.200 pincuk untuk kelompok yasinan dan tahlil, serta 1.300 untuk santri pondok.
Mbah Mastur menjelaskan, tradisi nasi pincuk erat kaitannya dengan ajaran “pager mangkok” Sunan Muria.
Filosofi itu mengajarkan agar manusia tidak membangun “pagar tembok” yang menutup diri, melainkan “pagar mangkok” atau gemar berbagi makanan kepada sesama.
”Pesan beliau itu ojo pageri omahmu nganggo tembok, nanging pageri nganggo mangkok. Artinya, kalau punya rezeki jangan lupa tetangga,” tuturnya.
Menu nasi pincuk sendiri juga sarat filosofi kesehatan. Isinya terdiri dari nasi, gule kerbau dan kambing, kuluban atau gudangan berbahan daun kelor, daun dadap, daun mengkudu, tempe bakar, serta ikan teri bakar.
Menurut Mbah Mastur, pola makan itu mencerminkan kearifan lokal warisan Sunan Muria yang mengajarkan hidup sederhana dan sehat.
”Beliau sudah memberi pesan sejak dulu, jangan banyak konsumsi makanan berkolesterol. Makanya banyak makanan rebus atau bakar. Itu ternyata sehat,” tandasnya.
Selama rangkaian haul berlangsung, jumlah peziarah yang datang diperkirakan mencapai lebih dari 10 ribu orang.
Tradisi salin luwur ini menjadi salah satu magnet spiritual sekaligus budaya yang terus dijaga masyarakat lereng Muria dari generasi ke generasi. (dik/him)
Editor : Abdul Rochim