Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Rokok Kretek Jadi Andalan Industri Tembakau dari Gempuran Pajak dan Cukai

Abdul Rochim • Minggu, 28 Juni 2026 | 20:22 WIB

JADI TUMPUAN: Pekerja menyelesaikan pembuatan rokok sigaret kretek tangan (SKT). (GALIH ERLAMBANG W/ Radar PATI)
JADI TUMPUAN: Pekerja menyelesaikan pembuatan rokok sigaret kretek tangan (SKT). (GALIH ERLAMBANG W/ Radar PATI)

KUDUS – Kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) terus memberi tekanan terhadap industri rokok nasional.

Namun, di tengah meningkatnya harga jual rokok, segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT) justru dinilai tetap mampu bertahan dan menjadi penyangga utama industri hasil tembakau karena menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Ketua Harian Persatuan Perusahaan Rokok Kudus, Agus Sarjono, mengatakan industri hasil tembakau selama ini menjadi salah satu penyumbang penerimaan negara terbesar melalui cukai dan pajak.

Menurutnya, sebagian besar harga rokok yang dibayar konsumen pada akhirnya masuk ke kas negara.

Baca Juga: SUDAH DISEGEL! 30 Karaoke Ilegal di Kudus Main Kucing-Kucingan dengan Satpol PP Perketat Razia

"Bahkan untuk jenis rokok tertentu, lebih dari 60 persen harga jual produk merupakan penerimaan negara melalui cukai dan pajak," ujarnya.

Selain cukai hasil tembakau, harga rokok juga dipengaruhi oleh komponen lain seperti pajak rokok daerah yang besarnya sekitar 10 persen dari nilai cukai, serta Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Akumulasi berbagai pungutan tersebut membuat harga rokok terus meningkat dari tahun ke tahun.

Kondisi itu, kata Agus, mengubah pola konsumsi masyarakat. Alih-alih berhenti merokok, banyak konsumen memilih beralih ke produk yang lebih terjangkau.

"Yang terjadi adalah migrasi konsumen. Mereka tetap merokok, tetapi berpindah ke produk yang harganya lebih ekonomis, salah satunya Sigaret Kretek Tangan," jelasnya.

Menurut Agus, fenomena tersebut membuat SKT tetap memiliki posisi strategis di tengah industri hasil tembakau nasional.

Selain menawarkan harga yang lebih kompetitif, SKT juga merupakan sektor padat karya yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Di Kabupaten Kudus, yang dikenal sebagai salah satu sentra industri kretek nasional, SKT masih menjadi penggerak ekonomi daerah.

Ribuan pekerja menggantungkan penghasilan dari industri ini, mulai dari proses pelintingan hingga distribusi.

Agus menilai pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara target penerimaan negara dan keberlangsungan industri padat karya dalam setiap penyusunan kebijakan fiskal.

"Industri hasil tembakau bukan hanya soal penerimaan negara, tetapi juga menyangkut jutaan tenaga kerja yang menggantungkan hidup pada sektor ini. Karena itu keseimbangan kebijakan sangat diperlukan," tegasnya.

Ia berharap sinergi antara pemerintah dan pelaku industri terus diperkuat sehingga sektor hasil tembakau tetap mampu memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional sekaligus menjaga keberlangsungan usaha dan kesejahteraan para pekerja. (dik)



Editor : Abdul Rochim
#Sigaret Kretek Tangan #industri hasil tembakau #rokok Kudus #cukai rokok #SKT