KUDUS – Pedagang Pasar Babe di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, masih bertahan berjualan di lapak sementara pascakebakaran yang terjadi beberapa waktu lalu.
Kondisi pasar darurat dinilai belum layak karena sering bocor saat hujan turun.
Air hujan kerap masuk ke area jualan akibat atap dan saluran yang belum memadai.
Baca Juga: BUKA INVESTOR BARU, Manajemen Persiku Kudus Lepas Saham Mayoritas untuk Liga 2 Musim Depan
Sejumlah barang dagangan milik pedagang bahkan basah dan harus dijemur kembali setelah hujan reda.
Di sisi lain, dua bangunan baru Pasar Babe hingga kini belum ditempati karena pembangunan belum rampung sepenuhnya.
Bangunan tersebut masih kekurangan sekat kios sehingga sementara dimanfaatkan sebagai area parkir.
Para pedagang pun tetap berjualan di halaman pasar menggunakan lapak darurat yang dibangun secara mandiri.
Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Anggota Komisi B DPRD Kudus, Sayid Yunanta.
Ia menilai para pedagang sudah terlalu lama menempati los sementara sejak kebakaran terjadi.
Menurutnya, kebutuhan kios permanen menjadi hal mendesak agar aktivitas perdagangan bisa kembali berjalan aman dan nyaman, terutama saat musim hujan yang membuat area pasar kerap tergenang air.
Sayid menjelaskan pemerintah daerah sebenarnya telah menyiapkan lokasi baru bagi pedagang.
Namun pembangunan sekat kios masih menunggu dukungan anggaran.
DPRD Kudus, kata dia, akan mengupayakan pembangunan kios masuk dalam pembahasan anggaran perubahan tahun 2026.
Baca Juga: NAHAS, Kebakaran Rumah Warga Desa Getaspejaten Kudus Akibatkan Dua Korban Tewas
Jika belum terealisasi, usulan tersebut akan kembali diperjuangkan pada 2027.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Babe, Hariyanto, mengungkapkan para pedagang masih berusaha bangkit setelah kebakaran.
Dari sekitar 264 pedagang terdampak, saat ini hanya sekitar 90 pedagang yang kembali aktif berjualan karena keterbatasan modal usaha.
Editor : Abdul Rochim