KUDUS - Krisis iklim tengah dirasakan oleh petani kopi yang menggantungkan hidupnya di lereng Gunung Muria. Pada tahun ini panen kopi mengalami kemunduran waktu panen.
Salah satu petani kopi yang merasakan mundurnya masa panen kopi adalah Hikmawati Inaya.
Dia menjelaskan, sesuai dengan kebiasaan dan prediksi petani, panen biasanya cenderung berlangsung pada Juli hingga September.
”Namun panen tersebut mundur hingga Oktober,” ungkap Hikmawati.
Hikma menambahkan, faktor mundurnya panen ini dikarenakan krisis iklim yang melanda.
Di samping itu, lahan kebun kopi milik Hikma tidak terpapar sinar matahari.
”Pada lahan kopi milik saya terkena sinar sangat tipis, itu menyebabkan lama dan mengalami mundur masa panen,” katanya.
Meski mengalami kemunduran masa panen, petani masih merasakan keuntungan. Lantaran pada musim panen 2025 mengalami kenaikan hasil.
Hikma menjelaskan, pada tahun ini kenaikan hasil panen kopi mencapai 30 persen.
Sementara untuk hasil green bean kopi mencapai 8 kwintal.
”Untuk hasil cherry kopi hasil mencapai 3,2 ton yang dihasilkan dari luasan lahan 1,2 hektar,” katanya.
Petani menambahkan, meski hasil panen kopi mundur dipastikan tidak menganggu distribusi dan permintaan pesanan.
Para konsumen tetap setia menanti hasil panen kopi miliknya.
Peminat kopi buatan Hikma saat ini sudah beredar di pasaran secara luasan. Kopinya hampir dijual seluruh Indonesia.
Sementara untuk kopi yang dijual berbentuk rose bean kopi dan bubuk kopi. (gal/him)
Editor : Abdul Rochim