Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Sejarah Masjid Jami Baiturrahman 1 Robayan Kalinyamatan Jepara, Berdiri Sekitar 1905, Saksi Pergolakan Era Pra Kemerdekaan

Fikri Thoharudin • Minggu, 2 Maret 2025 | 17:52 WIB
Masjid Baiturrahman Robayan Kalinyamatan Jepara yang megah dan memiliki nilai sejarah. (FOTO-FOTO FIKRI T/RADAR KUDUS)
Masjid Baiturrahman Robayan Kalinyamatan Jepara yang megah dan memiliki nilai sejarah. (FOTO-FOTO FIKRI T/RADAR KUDUS)

 


JEPARA - Jika diamati dari luar secara sekilas Masjid Jami Baiturrahman 1 yang terdapat di Jalan Raya Gotri-Welahan Km. 1, tepatnya di desa Robayan, Kecamatan Kalinyamatan, merupakan masjid yang biasa.

Serta tampak seperti bangunan masjid pada umumnya. Bangunan dengan kesan arsitektur zaman modern yang penuh material kekinian.

Namun orang akan mulai mengerti jika masjid tersebut merupakan masjid bersejarah, berusia ratusan tahun.

Utamanya bila menelisik sejumlah keramik yang tertempel pada ceketeng atau gapura depan.

Masjid Baiturrahman 1 Robayan, dikenal juga dengan nama Masjid Wali Robayan sebagai salah satu masjid tua di Jepara.

Meskipun telah mengalami tiga renovasi besar, namun masih dapat dijumpai bangunan bersejarah masjid. Bangunan tersebut ialah gapura atau masyarakat setempat menyebutnya ceketeng dan mimbar.

Sesepuh setempat, Haji Abdul Shomad menceritakan ceketeng itulah yang menjadi ikon khas masjid tersebut.

Gapura masjid tersebut sejak dulu terdapat pasangan piring-piring khas Cina, yang sengaja dilekatkan.

"Dulu itu bukan plester, hanya dipopok seperti Masjid Astana Sultan Hadlirin Mantingan. Tapi sekarang sudah di ganti semen. Dulu juga dibangun tidak berpondasi, namun sudah ditambah pasangan besi karena lokasinya yang berada di tepi jalan raya. Sehingga tidak membahayakan," ujarnya Jumat (28/2).

Ikon unik di Masjid Baiturrahman 1 Robayan Kalinyamatan Jepara.
Ikon unik di Masjid Baiturrahman 1 Robayan Kalinyamatan Jepara.

Gapura Masjid Jami Baiturrahman I Robayan telah berusia ratusan tahun, gapura tersebut memiliki corak arsitektur Hindu-Jawa.

Jika didasarkan dengan prasasti yang berada di kuncup atau mustaka mimbar khotib, tertulis Zulhijah 1322 Hijriah atau jika dikonversikan ke tahun Masehi sekitar 1905.

Gapura tersebut juga telah menjadi salah satu Cagar Budaya milik Pemda Jepara. Kini setidak-tidaknya usianya telah menginjak 120 tahun.

Shomad menceritakan bahwa dulu dapat dikatakan kawasan tersebut merupakan kota santri.

Terdapat sosok pembabat desa yakni Mbah Robaya yang dikabarkan berasal dari Surabaya mendapatkan piring-piring tersebut sebagai hadiah dari saudagar dari Tiongkok.

Piring-piring tersebut bermotif bunga-bunga dan garis hingga bentuk kubus yang saling terhubung satu sama lain. Yang dapat diartikan sebagai simbol persatuan dan kedamaian.

Desa Robayan waktu dulu termasuk Ibu kota Kerajaan Kalinyamat bersama dengan Desa Kriyan dan Desa Bakalan.

Sehingga selain memiliki historis sebagai daerah banyak santri juga dikenal sebagai daerah yang banyak pedagang.

Pada saat yang sama daerah tersebut menjadi kawasan yang diriwayatkan sebagai daerah perdamaian. Lantaran tak jauh dari masjid, di Welahan juga terdapat kelenteng.

"Berkembangnya masjid sendiri di antaranya diprakarsai oleh Kiai Ahmad. Yang waktu itu sebagai tokoh agama di daerah sini," sebutnya.

Sepeninggal Mbah Robaya, beberapa tahun kemudian terdapat Kiai Ahmad yang memprakarsai berdirinya masjid yang kini dikenal sebagai Baiturrahman 1.

"Di sini ada dua masjid, yang satu namanya Baiturrahman 2. Meski itu baru, namun nama disamakan karena agar tidak terjadi perpecahan antar warga," ujarnya.

Di antara riwayat berdirinya Masjid Baiturrahman dulu kala sebelum dibangun, tak sedikit warga sekitar mengeluhkan harus berdesak-desak untuk mengikuti salat Jumat di Musala KH Saleh (trah Sunan Bayat Klaten) di Sekarjati Modenan.

Oleh sebab itu warga berinisiatif untuk mendesak Bos Rokok Anggur bernama H. Asnawi kala itu untuk menyumbang pembangunan masjid.

Akhirnya Bos Rokok Anggur menyanggupinya dan menjadi donatur Masjid Baiturrahman untuk dibangun di atas tanah wakaf kala itu.

"Jadi sebelum Kudus terkenal dengan rokok Djarum di sini sudah ada industri rokok besar. Sekarang sudah tidak ada, hanya dapat dilihat bangunan yang pernah menjadi pabrik-pabriknya," tuturnya.

Keberadaan masjid juga mewarnai masa-masa pra kemerdekaan. Diriwayatkan, pada masa itu Kolonial Belanda mengebom dua lokasi di Kalinyamatan yaitu Pendosawalan dan Masjid Robayan, tapi meleset.

Bom yang seharusnya meluluhlantakkan Pendosawalan meleset ke Banyuputih, begitu pula bom yang seharusnya menuju Masjid Robayan meleset ke Pasar Kerajaan Kalinyamat yang sekarang.

Belakangan pasar yang dibom tersebut diberi nama Kutha Bedah (Kota Meledak).

"Renovasi pertama dilakukan sekitar tahun 1968 an, kemudian yang kedua sekitar 1980an, lalu yang ketiga pada 2004," ucap Shomad.

Selain keunikan, ceketeng, juga cerita yang melekat pada mimbar khotib di dalam masjid.

Dulunya juga terdapat pihak bernama Mbah Jono, selaku pembuat mimbar tersebut.

Dahulu pintu masjid sempit dan kecil, seorang wali bernama Mbah Jono tersebut membuat mimbar khotbah di luar masjid.

Setelah mimbar selesai, ternyata ukurannya lebih tinggi dan besar daripada pintu masjid.

Sehingga terjadilah sayembara antara Mbah Jono dan Kiai Ahmad. Serta kemudian berhasil dimasukkan ke dalam area masjid.

"Tingginya ada lima meter, masih utuh seperti saat pertama kalinya. Dulu masjid tidak berlantai dua, hanya berlantai satu. Namun karena karamah wali akhirnya pun bisa masuk," tanggap Maghfur salah satu tokoh masyarakat lainnya.(fik)


Jadi Saksi Perkembangan Pendidikan Agama

Hingga kini keberadaan masjid dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, utamanya dalam kegiatan peribadatan sehari-hari.

Abdul Shomad menyebutkan terdapat berbagai kegiatan yang rutin terselenggara di masjid. Yang paling utama selain kegiatan ibadah ialah majelis taklim.

"Sejak dulu di sini juga sudah ada sekolah bernama Tarbiyatul Athfal, yang belakangan barubah nama menjadi Al Azhar," ungkapnya.

Lembaga pendidikan yang berada di belakang masjid tersebut menjadi satu sakti akan gairah keilmuan masyarakat sekitar.

"Sekarang bangunan-bangunannya sudah modern, tapi lembaga pendidikan ini juga memiliki perjalanan uang panjang. Hingga saat ini muridnya sekitar 500-an," sebutnya.

Selain lembaga pendidikan tersebut, agenda rutin masjid di antaranya ialah pengajian kitab setiap malam Sabtu, malam Rabu, malam Jumat.

Serta Ahad pagi usai Subuh. Kemudian juga ada acara selapanan dengan menghadirkan Kiai dari luar.

"Juga ada tarekat, al Hidmah setiap malam Selasa setelah Isya. Tokoh yang terkenal di antaranya ialah Kiai Asrori," katanya.

Tumbuhnya pondok-pondok pesantren di sekitar masjid juga menambah atmosfer sosial-keagamaan masyarakat.

"Ya sejak dulu semangat untuk mencari ilmunya memang tinggi. Alhamdulillah masih berlangsung hingga sekarang. Semoga hingga ke depan juga terus berlanjut," pungkasnya. (fik/aua)

Editor : Achmad Ulil Albab
#baiturrahman #khazanah #jepara #pergolakan #Robayan Kalinyamatan #saksi #masjid #kemerdekaan #welahan #sejarah