
GROBOGAN – Puluhan warga Desa Penadaran, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, mengeluhkan kualitas minyak goreng bantuan pangan bermerek Minyakita.
Minyak goreng kemasan dua liter itu diduga terkontaminasi karena mengeluarkan aroma menyengat menyerupai solar saat digunakan untuk memasak.
Temuan tersebut membuat warga khawatir. Demi menghindari risiko terhadap kesehatan, mereka memilih menghentikan penggunaan minyak goreng bantuan tersebut.
Dan berencana mengembalikannya ke pemerintah desa untuk ditukar dengan produk yang layak konsumsi.
Baca Juga: PBB-P2 2025 Dapat Rp 45 Miliar, Ini Daftar Juara Lunas Pajak Tercepat di Grobogan
Salah seorang penerima bantuan, Minah, mengaku baru menyadari kejanggalan itu ketika memanaskan minyak di atas wajan.
Aroma tidak sedap langsung tercium sehingga ia membatalkan memasak menggunakan minyak tersebut.
"Saat dipakai memasak, minyaknya berbau solar cukup menyengat," ujarnya, Senin (29/6).
Karena khawatir dapat membahayakan kesehatan keluarganya, ia memutuskan tidak lagi menggunakan minyak goreng bantuan tersebut.
"Kami takut kalau dikonsumsi bisa membahayakan atau menyebabkan keracunan. Jadi kami memilih tidak memakainya lagi," katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya, Ervin. Menurutnya, sejumlah penerima bantuan telah sepakat mengumpulkan kembali minyak goreng tersebut agar dapat dikembalikan ke balai desa.
"Kami berharap minyak bantuan ini bisa diganti dengan minyak goreng lain yang benar-benar layak dan aman untuk dikonsumsi," ujarnya.
Kepala Desa Penadaran, Sholehatu Ridlo, membenarkan adanya laporan dari masyarakat terkait dugaan kualitas minyak goreng bantuan yang bermasalah.
Berdasarkan laporan yang diterima, aroma menyerupai solar muncul ketika minyak dipanaskan untuk memasak.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah desa langsung mengimbau seluruh warga penerima bantuan untuk sementara tidak menggunakan minyak goreng tersebut hingga ada kepastian hasil pemeriksaan.
"Kami meminta warga tidak mengonsumsi minyak goreng itu terlebih dahulu. Silakan dibawa ke kantor desa untuk didata. Selanjutnya akan kami upayakan agar dapat ditukar dengan minyak goreng yang baru dan layak digunakan," jelasnya.
Saat ini pemerintah desa masih melakukan pendataan terhadap minyak goreng bantuan yang diduga bermasalah.
Selanjutnya, pemerintah desa akan berkoordinasi dengan instansi terkait guna menyelidiki penyebab munculnya aroma tersebut sekaligus memastikan keamanan produk sebelum kembali didistribusikan kepada masyarakat. (mun)