Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

19 Sekolah di Grobogan Mulai Dilakukan Penilaian Calon Sekolah Adiwiyata Kabupaten, Mana Saja?

Intan Maylani Sabrina • Jumat, 17 Oktober 2025 | 13:34 WIB
MENILAI: Tim penilaian adiwiyata kabupaten saat berada di SMP 4 Satap Ngaringan.
MENILAI: Tim penilaian adiwiyata kabupaten saat berada di SMP 4 Satap Ngaringan.

GROBOGAN– Sebanyak 19 SD/MI dan SMP/MTs di Kabupaten Grobogan mulai ditinjau oleh tim penilaian Calon Sekolah Adiwiyata Kabupaten 2025.

Penilaian berlangsung selama empat hari, Selasa hingga Jumat (14–18/10).

Kepala DLH Grobogan Mokamat melalui Kabid Penaatan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup Gunawan Widiyanto menjelaskan bahwa kegiatan ini dilakukan untuk melihat sejauh mana sekolah telah menerapkan Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS).

Sekolah tersebut yakni SDN 1 Grabagan (Kradenan), SDN 1 Bendoharjo (Gabus), SDN 1 Kejawan (Tegowanu), SMPN Tanggungharjo (Tanggungharjo), SMPN 3 Satap Kedungjati (Kedungjati).

Kemudian SDN 8 Purwodadi (Purwodadi), SMPN 2 Bugel (Godong), SDN Parakan Karangrayung (Karangrayung), SDN 7 Wirosari (Wirosari), SMPN 4 Satap Ngaringan (Ngaringan), MI Jabalul Khoir (Purwodadi), SMPN 1 Brati (Brati), SDN 4 Tanggungharjo (Grobogan), SMP Integral Luqman Alhakim (Purwodadi).

Serta, SDN 1 Krangganharjo (Toroh), MI YPI Boloh (Toroh), SDN 1 Rambat (Geyer), SMP 5 Satap (Geyer), dan SMPN 3 Pulokulon.

Penilaian dilakukan berdasarkan 29 indikator, yang mencakup aspek perencanaan, pelaksanaan, dan keberlanjutan kegiatan lingkungan hidup di sekolah.

“Indikator penilaian di antaranya meliputi kebersihan dan kenyamanan lingkungan sekolah, pengelolaan sampah, konservasi air dan energi, penghijauan, pengendalian pencemaran, serta integrasi pendidikan lingkungan dalam kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler,” jelas Gunawan.

Ia menambahkan, program Adiwiyata tidak hanya menilai fisik sekolah yang bersih dan hijau, tetapi juga menekankan partisipasi aktif seluruh warga sekolah.

Mulai dari siswa, guru, hingga tenaga kependidikan dalam membangun kebiasaan hidup ramah lingkungan.

Tim penilaian turun langsung ke sekolah-sekolah untuk meninjau implementasi program lingkungan tersebut.

Berbagai inovasi turut menjadi perhatian, seperti bank sampah, pemanfaatan kembali barang bekas, taman obat keluarga, hingga pengolahan kompos mandiri.

“Sekolah-sekolah yang berkomitmen kuat terhadap lingkungan akan menjadi inspirasi bagi yang lain. Kami berharap gerakan ini menumbuhkan generasi yang cinta lingkungan dan menjadikan Grobogan lebih bersih serta berkelanjutan,” ungkap Gunawan.

Menurutnya, Adiwiyata bukan sekadar ajang lomba antar sekolah, melainkan menjadi salah satu upaya nyata Pemkab Grobogan dalam pengurangan sampah dari sumbernya.

"Melalui gerakan ini, kami ingin sampah selesai di sekolah. Artinya dikelola, dimanfaatkan, dan tidak berakhir di tempat pembuangan. Hal itu disebabkan TPA satu-satunya yang dimiliki Grobogan diprediksi mencapai kapasistas penuh sebelum pertengahan 2026,” jelas Gunawan.

Dengan adiwiyata, pemkab ingin sekolah menjadi ruang tumbuh bagi perilaku hijau.

Ketika siswa terbiasa menjaga lingkungan di sekolah, mereka akan membawa nilai itu ke rumah dan masyarakat. (Int)

Editor : Syaiful Amri
#grobogan #Satap #adiwiyata