Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Sosok Cantik asal Kudus Ini Masih Tetap Setia pada Dunia Buku

Abdul Rochim • Selasa, 30 Juni 2026 | 19:15 WIB


Maulidia Cahayaning Putri. (DOK PRIBADI)

Maulidia Cahayaning Putri. (DOK PRIBADI)

KUDUS – Kesibukan sebagai host live dan admin tidak membuat Maulidia Cahayaning Putri (22) meninggalkan kecintaannya pada dunia literasi.

Warga Desa Sadang, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus itu tetap meluangkan waktu untuk membaca, menulis, hingga menggambar sebagai cara mengembangkan diri sekaligus melepas penat.

Lulusan Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam UIN Sunan Kudus yang akrab disapa Aya tersebut menganggap membaca bukan sekadar hobi, melainkan bagian penting dari perjalanan hidupnya.

Kecintaan terhadap buku tumbuh sejak dirinya duduk di bangku kelas V sekolah dasar. Saat itu, sebuah buku bergambar berjudul Pak Pos yang Budiman menjadi awal mula ketertarikannya pada dunia literasi.

Baca Juga: SOSOK M. Adel Hilmi Juara Putera Jawa Tengah 2026, Siap Promosikan Wisata Indonesia

"Dari kecil memang suka baca. Awalnya buku bergambar, lalu waktu SMP mulai kenal novel. Sejak SMA saya mulai beli novel sendiri," ujarnya.

Kebiasaan membaca itu terus berlanjut hingga sekarang. Aya mengaku telah mengoleksi sekitar 60 hingga 70 buku di rumah. Sebagian besar merupakan novel, genre yang paling disukainya.

Peraih beasiswa Bank Indonesia melalui program Generasi Baru Indonesia (GenBI) tersebut mengaku mengagumi karya-karya penulis Leila S. Chudori.

Baginya, novel Laut Bercerita menjadi bacaan yang paling membekas karena berhasil membangkitkan kembali minat membacanya setelah sempat vakum selama dua tahun.

"Novel itu bikin saya sadar lagi betapa saya suka membaca. Setelah dua tahun vakum, akhirnya saya kembali aktif baca," katanya.

Tak hanya gemar membaca, Aya juga aktif menulis. Ia pernah terlibat dalam penyusunan buku antologi cerpen bersama komunitas literasi daring yang diikutinya.

Menurutnya, komunitas tersebut menjadi ruang untuk belajar, bertukar gagasan, sekaligus memperluas jaringan dengan sesama pegiat literasi.

Meski memiliki kemampuan di bidang kepenulisan, Aya mengaku tidak terlalu tertarik mengikuti berbagai perlombaan. Ia lebih memilih menikmati proses berkarya tanpa tekanan kompetisi.

"Saya jarang ikut lomba karena ingin merasa lebih slow saja, lebih tenang. Saya lebih menikmati prosesnya," ungkapnya.

Selain literasi, Aya juga menaruh minat pada seni visual, khususnya menggambar dan mengedit video.

Kemampuan menggambarnya diasah secara otodidak sejak kecil melalui kebiasaan mencoret dan membuat sketsa.

Ia bahkan sempat bercita-cita melanjutkan pendidikan di bidang seni. Namun, keinginan tersebut urung diwujudkan karena tidak mendapat izin orang tua untuk melanjutkan kuliah di luar Kudus.

"Saya suka gambar dari dulu, tapi belajarnya otodidak, cuma coret-coret saja. Sempat ingin serius di bidang seni, tapi akhirnya ambil jalan lain," tuturnya.

Di sela aktivitasnya, Aya juga pernah mengajar di taman pendidikan Al-Qur'an (TPQ) dan taman kanak-kanak. Pengalaman tersebut tidak lepas dari latar belakang keluarganya yang sebagian besar berprofesi sebagai guru.

Meski demikian, saat menentukan jurusan kuliah, ia sengaja memilih bidang komunikasi agar memperoleh pengalaman dan suasana baru di luar dunia pendidikan.

"Keluarga besar saya guru semua. Saya pernah ikut mengajar, tapi waktu kuliah saya sengaja tidak ambil jurusan keguruan karena ingin mencoba atmosfer baru," pungkasnya. (dik/him)



Editor : Abdul Rochim
#pegiat literasi #hobi membaca #penulis muda Kudus #Leila S Chudori #uin sunan kudus