BLORA – Pemkab Blora mengambil langkah cepat menyusul dugaan keracunan makanan yang dialami sejumlah siswa SMAN 1 Tunjungan.
Penyedia makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut sementara dihentikan operasionalnya.
Keputusan itu diambil sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang telah dikirim ke Semarang.
Bupati Blora Arief Rohman mengatakan sampel makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah diambil untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.
“Kami sudah melakukan pemeriksaan terhadap makanan yang diduga menyebabkan keracunan. Sampel makanan tersebut sudah kami kirim ke laboratorium di Semarang untuk diuji lebih lanjut,” kata Arief saat meninjau kondisi para siswa, Kamis (10/9).
Selain pemeriksaan laboratorium, tim dari Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat juga dijadwalkan datang ke Blora untuk melakukan investigasi lebih lanjut.
Sembilan Siswa Masih Dirawat
Di tengah proses penyelidikan, Arief memastikan Pemkab Blora memberikan perhatian terhadap kondisi para pelajar yang terdampak.
Bupati bersama Kepala Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Blora dan Ketua BAZNAS Blora mendatangi dua fasilitas kesehatan untuk melihat langsung kondisi korban.
Sebanyak tujuh siswa masih menjalani perawatan di RSUD dr. R. Soetijono Blora. Sementara dua siswa lainnya dirawat di Klinik Citra Mulia Tunjungan.
“Di sana masih terdapat sekitar tujuh siswa SMA Negeri 1 Tunjungan yang sedang menjalani proses perawatan. Sementara itu, terdapat dua siswa yang dirawat di Klinik Citra Mulia. Jadi, total ada sembilan siswa yang kami kunjungi,” jelasnya.
Arief menyampaikan keprihatinan atas kejadian yang menimpa para siswa.
Ia berharap seluruh korban segera pulih dan dapat kembali mengikuti kegiatan belajar seperti biasa.
Jadi Evaluasi SPPG Lain
Pemkab Blora tidak ingin kasus tersebut berhenti pada penanganan korban.
Kejadian ini dinilai menjadi peringatan bagi seluruh penyelenggara program MBG agar lebih ketat dalam memastikan keamanan pangan.
Arief mengatakan operasional SPPG yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut telah direkomendasikan untuk dihentikan sementara.
Penutupan dilakukan sejak Rabu (9/9).
“Kejadian ini harus menjadi perhatian bagi SPPG lainnya agar selalu menjaga kualitas, mutu, dan keamanan pangan secara ketat, agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” tegasnya.
Menurut Arief, hasil uji laboratorium dan investigasi BGN akan menjadi bagian penting untuk mengetahui penyebab kejadian secara lebih jelas.
Sembari menunggu hasil tersebut, Pemkab Blora memastikan penanganan terhadap siswa tetap menjadi prioritas.
“Semoga para siswa yang masih menjalani perawatan segera sembuh dan dapat kembali bersekolah seperti sedia kala,” pungkas Arief.(*)