BLORA – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamina Dex berdampak langsung terhadap pelayanan distribusi air bersih di Kabupaten Blora.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora terpaksa menyesuaikan target dropping air bersih pada musim kemarau tahun ini karena biaya operasional armada meningkat tajam.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Blora Widodo mengatakan, penyusunan anggaran distribusi air bersih dilakukan saat harga Pertamina Dex masih berada di kisaran Rp 14.500 per liter pada Maret 2025. Sementara saat ini harganya telah mencapai Rp 24.800 per liter.
Kondisi tersebut membuat anggaran yang tersedia tidak lagi mampu memenuhi target awal distribusi air bersih.
Baca Juga: BIKIN GARUK KEPALA! Jumlah Desa di Blora Berpotensi Dilanda Kekeringan
"Semula kami merencanakan dropping sebanyak 1.500 tangki. Namun setelah ada kenaikan harga BBM, kemampuan anggaran hanya cukup untuk sekitar 1.200 tangki," ujarnya.
BPBD Blora mengoperasikan lima truk tangki untuk mendistribusikan air bersih ke wilayah yang mengalami krisis air selama musim kemarau.
Seluruh armada menggunakan bahan bakar Pertamina Dex sehingga kenaikan harga BBM berpengaruh besar terhadap biaya operasional.
Menurut Widodo, peningkatan biaya bahan bakar menjadi tantangan tersendiri.
Di satu sisi pemerintah dituntut melakukan efisiensi anggaran, namun di sisi lain pelayanan dasar kepada masyarakat harus tetap berjalan.
"Kalau efisiensi operasional kantor mungkin masih bisa dilakukan. Tetapi kalau pelayanan kepada masyarakat, terutama saat ada permintaan dropping air bersih, tentu tidak mungkin dihentikan hanya karena anggaran BBM," katanya.
Sebelum terjadi kenaikan harga BBM, biaya operasional satu armada tangki berkisar antara Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, tergantung jarak distribusi.
Kini kebutuhan biaya operasional meningkat hingga sekitar Rp 500 ribu per armada setiap hari.
Dalam kondisi normal, satu truk tangki mampu melakukan tiga kali distribusi air bersih dalam sehari.
Namun kapasitas tersebut bisa berkurang apabila lokasi tujuan berada jauh dari sumber air sehingga konsumsi bahan bakar menjadi lebih tinggi.
"Kalau lokasi pengiriman jauh, otomatis kebutuhan BBM juga bertambah. Itu yang menjadi tantangan kami sekarang," jelasnya.
BPBD telah memetakan langkah antisipasi apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan.
Distribusi air bersih akan diprioritaskan bagi wilayah yang mengalami krisis air paling parah, sementara daerah lain akan dibantu melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.
Widodo mengatakan BPBD membuka peluang kerja sama dengan perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Pihaknya siap menyediakan data wilayah terdampak agar bantuan distribusi air dapat disalurkan secara tepat sasaran.
"Kami siap mengawal bantuan dari perusahaan. Distribusi bisa menggunakan armada BPBD maupun armada milik swasta agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi," ungkapnya.
Selain menggandeng sektor swasta, BPBD juga akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Blora terkait kemungkinan penambahan anggaran apabila kemarau berlangsung lebih lama dan kebutuhan distribusi air meningkat.
"Kalau nanti kemarau benar-benar panjang, kami berharap ada perhatian dalam perubahan anggaran karena ini menyangkut pelayanan dasar masyarakat," tandasnya. (ari/him)
Editor : Abdul Rochim