BLORA, RadarPati.id - Pembangunan proyek dapur umum bertuliskan “Badan Gizi Nasional, Deputi Pengadaan Umum” berdiri di Desa Kentong, Kecamatan Cepu.
Namun, dapur umum tersebut bersifat mandiri dan memakai dana pribadi dengan menyewa lahan selama lima tahun.
Pembangunan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, terutama dalam penyediaan makanan bergizi secara gratis.
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Kudus, dalam papan informasi proyek tercantum bahwa pembangunan dapur gizi dilakukan oleh PT Karisma Talenta Agung.
Pembangunan dapur umum itu dimulai dengan tanggal kontrak 8 Januari dan waktu pelaksanaan ditetapkan selama lima minggu.
Dengan waktu yang relatif singkat, pelaksanaan proyek ini dituntut untuk berjalan efisien agar segera bisa beroperasi.
Pelaksana PT Karisma Talenta Agung, Suryana, mengatakan dapur gizi itu dibangun di atas tanah bersertifikat hak milik dari kepala dusun setempat.
Untuk luas bangunan dapur gizi, yaitu 21x21 meter, yang dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional.
“Itu pemilihan tanah, titik penentuan tanah, tim verifikasi tanah, kemiringan dan harga sewa itu langsung ditentukan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Jadi memang ada beberapa dapur umum anggarannya ada yang dari pribadi bersifat mandiri dan ada yang bersifat resmi dari pemerintah,” ucapnya.
Ia menambahkan, proyek ini merupakan bagian dari upaya BGN untuk menyediakan akses makanan sehat kepada masyarakat dengan berbagai skema pendanaan.
Ia menjelaskan bahwa untuk pembangunan dapur gizi itu di atas tanah seluas 1.240 meter persegi dan disewa selama lima tahun.
Dari BGN sendiri sudah mengarahkan agar durasi sewa tersebut cukup panjang untuk memastikan keberlangsungan program.
“Kontraktor kami itu sudah rencana mendirikan di Cepu, Magelang, dan Wonogiri. Dapur gizi selesai itu kalau tidak ada kendala targetnya selesai 17 Februari,” ujarnya.
Ia berharap proyek ini bisa berjalan lancar dan selesai tepat waktu agar manfaatnya bisa segera dirasakan oleh masyarakat.
Pihaknya menyampaikan bahwa setelah bangunan selesai, akan ada tahapan verifikasi kelayakan, uji kelayakan dapur, rekrutmen sumber daya manusia (SDM), serta pelatihan tim SDM.
“Terus titiknya itu radius dari 5 km itu mencakup berapa sekolahnya itu ada sendiri. Jadi memang yang dicari memang harus cukup di 3.500 porsi minim,” tuturnya. Dengan kapasitas sebesar itu, dapur ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan makanan bergizi bagi anak-anak sekolah dan masyarakat sekitar.
Sadimin, Kepala Dukuh Ngepung Desa Kentong, mengaku bahwa tanah yang digunakan untuk membangun dapur gizi merupakan lahan miliknya.
“Awalnya ada yang survei tanah untuk membangun dapur gizi, mereka bilang mau menyewa lahan. Kesepakatan penyewaannya itu Rp 20 juta per tahun. Sewanya selama lima tahun,” katanya.
Ia menambahkan bahwa dirinya bersedia menyewakan lahannya karena melihat manfaat besar dari keberadaan dapur ini bagi masyarakat sekitar. (ari/amr)
Editor : Syaiful Amri