KOTA, RADARPATI.ID – Angka kasus bunuh diri di Kabupaten Blora terbilang cukup memprihatinkan.
Berdasarkan catatan statistik, terdapat 20-an kasus bunuh diri tiap tahun.
Salah satu penyebabnya karena masih minimnya pendampingan terhadap para korban.
Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Blora Luluk Kusuma Agung Ariadi.
Menurutnya tingginya angka kasus bunuh diri salah satu kurangnya pendampingan.
Baik pendampingan lingkup keluarga, masyarakat dan desa.
“Guna mencegah atau menanggulanginya, perlu kepedulian masyarakat di lingkungan sekitar. Sebagaimana diketahui kasus bunuh diri terjadi di sebuah desa di Desa Pelem, Kecamatan Jati Jum'at (5/7). Kasus yang menimpa S, 78, menjadi kasus bunuh diri terakhir yang dilakukan lansia di 2024," ujarnya.
Ia menambahkan, berdasarkan angka terakhir yang tercatat di Badan Pusat Statistik Jawa Tengah, pada 2022 sebanyak 22 kasus bunuh diri.
Ditambah, angka tersebut naik setiap tahunnya.
"Di antara penyebab bunuh diri, yakni sakit menahun dan memiliki riwayat sebagai pasien orang dalam gangguan jiwa (ODGJ). Hingga sekarang, Pemkab Blora telah mengupayakan untuk memberi pelayanan kesehatan masyarakat," ujarnya.
Ia menjelaskan, Pemkab Blora mengutamakan untuk memberikan pelayanan kesehatan masyarakat kurang mampu.
Ditambah lagi dengan kondisi warga tersebut benar-benar sakit dan harus dirawat.
Meski upaya tersebut telah dilakukan, kasus bunuh diri tetap saja terjadi.
"Butuh kerja sama lintas sektoral dalam menyelesaikan kasus bunuh diri. Ditambah kasus bunuh diri ini bukan menjadi tugas dan fungsi khusus Dinsos,"ujarnya."
Kami menangani orang-orang yang bermasalah sosial, contohnya orang sakit tapi miskin, bagaimana caranya biar mereka mendapat pelayanan kesehatan. Kemudian penyandang disabilitas, bagaimana agar mereka dapat diberdayakan,” imbuhnya.
Pemkab Blora terus mengimbau masyarakat agar lebih peduli dengan lingkungan yang memiliki masalah sosial pelik.
Kasus bunuh diri yang terjadi di Blora biasanya disebabkan korban menderita sakit lama dan takut untuk berobat.
“Bukan karena tidak bisa berobat. Cuman dengan sakitnya yang menahun banyak dari mereka yang tidak sabar, dan akhirnya ingin mengakhiri dengan bunuh diri. Sementara, kepedulian lingkungan sekitarnya dibutuhkan untuk lebih memperhatikan,” imbuhnya.(ari/ali)