
KUDUS - Di tengah gempuran minuman kekinian yang ramai di media sosial, sebuah warung sederhana di Jekulo, Kudus, justru menawarkan kesegaran yang tak lekang oleh waktu.
Terletak di samping pojok Puskesmas Jekulo, warung es dawet milik Hartini tetap setia melayani pembeli sejak tahun 1975 — tanpa spanduk, tanpa nama, namun selalu ramai dikunjungi pelanggan.
Warung ini hanya buka dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Dalam rentang waktu itu, pembeli datang silih berganti.
Baca Juga: Pedas Gurih Mangut Kepala Manyung, Kuliner Khas Pesisir Pati yang Menggugah Selera
Meski tak ada papan nama atau menu yang terpajang, warga sekitar dan pelanggan setia sudah tahu: warung mungil berdinding anyaman bambu putih itu adalah tempat menikmati es dawet legendaris.
Hartini, sang pemilik, adalah warga Desa Jekulo Karang. Di usianya yang ke-62 tahun, ia masih semangat melayani pelanggan dengan ramah.
Ia menuturkan bahwa usaha ini merupakan “warisan” keluarga yang telah ada sejak zaman penjajahan Jepang.
“Saya mulai jualan tahun 1975, meneruskan usaha mbah saya yang sudah jualan dari zaman Jepang ceritanya. Tempatnya ya di sini-sini saja, dulu juga bentuknya sederhana,” ujar Hartini.
Warung ini hanya berukuran sekitar 3 x 3 meter. Bagian depannya ditutup selembar kain putih tipis, tanpa dekorasi mencolok.
Di dalamnya, terdapat tiga bangku kayu panjang yang bisa digunakan pengunjung untuk duduk dan menyeruput es dawet khas Hartini.
Salah satu yang membuat es dawet ini begitu digemari adalah cita rasanya yang khas. Rasanya juga konsisten.




