Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Biasa Nabung Sampah, Warga Kudus Cairkan Uang Jelang Lebaran

Abdul Rochim • Sabtu, 7 Maret 2026 | 14:56 WIB

Warga Kudus nabung sampah diimbali uang cair jelang hari raya lebaran.
Warga Kudus nabung sampah diimbali uang cair jelang hari raya lebaran.

KUDUS – Bank sampah di RW 2 Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus menjadi contoh bagaimana pengelolaan sampah dapat memberikan nilai ekonomi bagi warga.

Dengan sistem “menabung sampah”, warga bisa mengumpulkan hasilnya dan mencairkannya setiap tahun menjelang Ramadan.

Koordinator Bank Sampah RW 2 Jati Kulon, Sri Setuni menjelaskan, kegiatan bank sampah dibuka secara rutin dua kali dalam sebulan, yakni pada minggu kedua dan minggu keempat.

Warga yang menjadi nasabah diminta menyetorkan sampah anorganik ke lokasi pengumpulan yang berada di rumah ketua RW.

Setiap sampah yang disetorkan akan ditimbang terlebih dahulu sebelum dicatat sebagai tabungan warga.

Setelah itu, data setoran diserahkan kepada koordinator untuk dilakukan pencatatan secara terpusat.

“Sistemnya menabung sampah. Warga RW 2 yang setor sampah akan ditimbang dan dicatat. Kemudian data setoran disampaikan kepada saya sebagai koordinator,” jelas Sri Setuni.

Jenis sampah yang diterima umumnya adalah sampah anorganik kering yang masih memiliki nilai jual, seperti botol plastik, kardus, logam, kertas, hingga gelas plastik bening.

Namun, sampah yang tidak memiliki nilai jual seperti bungkus kopi atau plastik kemasan juga tetap diterima.

Sampah yang tidak bisa dijual tersebut tidak dibuang begitu saja, melainkan diolah menjadi berbagai kerajinan tangan.

Kegiatan ini sekaligus menjadi peluang ekonomi bagi ibu-ibu PKK di lingkungan setempat.

Melalui pelatihan yang rutin dilakukan, warga diajari memanfaatkan limbah plastik menjadi berbagai produk kerajinan bernilai jual.

Sebelum pandemi, kegiatan ini bahkan mampu menyerap lebih dari sepuluh tenaga kerja dari warga sekitar.

“Setiap bank sampah buka, kami juga sekaligus edukasi membuat kerajinan dari sampah plastik. Ada yang khusus melipat, menjahit, dan membuat produk. Jadi masing-masing warga punya tugas sendiri,” ujarnya.

Di Bank Sampah RW 2 sendiri, sistem yang digunakan adalah tabungan sampah tahunan.

Artinya, setiap setoran sampah warga akan dikumpulkan selama satu tahun dan tidak langsung diuangkan.

Harga sampah bervariasi tergantung jenisnya.

Botol plastik dihargai sekitar Rp 1.800 per kilogram, kardus Rp 2.000 per kilogram, duplek Rp 700 per kilogram, aluminium Rp 15.000 per kilogram, gelas plastik bening Rp 2.000 per kilogram, dan besi sekitar Rp 4.000 per kilogram.

Setelah dikumpulkan selama setahun, hasil tabungan sampah tersebut biasanya dicairkan pada bulan Ramadan. Warga kemudian menerima uang sesuai dengan jumlah dan jenis sampah yang mereka setorkan sepanjang tahun.

Menurut Sri Setuni, nominal yang diterima warga bervariasi, mulai dari belasan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Besarnya tergantung seberapa banyak sampah yang ditabung oleh masing-masing nasabah.

“Biasanya pencairan kami lakukan saat Ramadan seperti sekarang ini. Nilainya ada yang belasan ribu sampai ratusan ribu rupiah, tergantung jumlah tabungan sampahnya,” jelasnya.

Pada Ramadan tahun ini, pencairan tabungan sampah kembali dilakukan.

Tercatat lebih dari 100 warga mengikuti program bank sampah di RW 2 Jati Kulon dan rutin menyetorkan sampah mereka setiap bulan. (dik/him)

 

Editor : Abdul Rochim
#nabung sampah #kudus #bank sampah