Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Normalisasi Sungai Setro Kudus selama Tiga Hari, Lihatlah Dampaknya

Abdul Rochim • Selasa, 3 Februari 2026 | 05:43 WIB

Normalisasi sungai di Jekulo, Kudus, (3/2).
Normalisasi sungai di Jekulo, Kudus, (3/2).


KUDUS – Pemerintah Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, bergerak cepat melakukan normalisasi Sungai Setro .

Ini sebagai langkah antisipasi banjir yang berpotensi melimpas ke jalur nasional Pantura.

Pekerjaan normalisasi dilakukan secara intensif hanya dalam waktu tiga hari, yakni Rabu hingga Jumat pekan lalu.

Normalisasi difokuskan di bagian utara jembatan Sungai Setro, tepatnya di sisi barat Pura, yang selama ini menjadi titik rawan saat debit air meningkat.

Dengan mendatangkan satu unit alat berat jenis ekskavator, alur sungai sepanjang sekitar 100 meter diluruskan untuk memperlancar arus air.


Kepala Desa Terban, Supeno, mengatakan percepatan normalisasi dilakukan karena kondisi alur sungai yang berkelok serta jembatan lama yang sempit kerap memicu limpasan air, terutama saat banjir kiriman dari wilayah hulu seperti Pati.

”Cuma tiga hari, Mas. Rabu, Kamis, Jumat kemarin. Alhamdulillah dampaknya langsung terasa. Aliran air sekarang lancar. Beberapa hari ini sempat hujan lagi, tapi tidak sampai melimpas,” ujar Supeno, Senin (2/2).

Ia menjelaskan, sebelumnya alur Sungai Setro di lokasi tersebut berkelok-kelok sehingga membuat aliran air berputar dan tertahan.

Kondisi itu menyebabkan kapasitas sungai tidak mampu menampung debit air besar, lalu meluap ke jalan nasional Pantura.

Air dari hulu besar dan tidak tertampung, pasti limpas ke Pantura. Padahal Pantura itu objek vital nasional.

"Walaupun cuma seperempat jam tergenang, dampaknya luar biasa. Lalu lintas bisa langsung lumpuh,” tegasnya.

Supeno mengakui kewenangan utama penanganan sungai berada di Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) di bawah pemerintah pusat.

Namun, pemerintah desa tetap mengambil inisiatif dengan menggandeng pihak terkait untuk melakukan normalisasi darurat demi meminimalkan risiko banjir.

Menurutnya, pekerjaan difokuskan pada pelurusan alur sungai sepanjang 50 hingga 100 meter, serta pembersihan sedimentasi dan material yang menghambat aliran air.

Meski jembatan lama masih tergolong sempit, pelurusan alur dinilai cukup efektif untuk mengurangi potensi limpasan.

”Selama ini sungainya berkelok seperti ular. Air muter dan tertahan. Kalau diluruskan, meskipun jembatannya masih kecil, setidaknya air bisa mengalir lancar dan tidak meluap ke Pantura,” jelasnya.


Selain persoalan sungai, Supeno juga menyoroti dampak banjir terhadap kondisi jalan di sekitar jembatan.

Genangan air kerap memicu kerusakan jalan berupa lubang yang membahayakan pengguna jalan, terlebih jalur tersebut dilalui kendaraan bertonase berat.

Meski demikian, ia menilai respons penanganan kerusakan jalan saat ini lebih cepat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

”Lubang ditambal, rusak lagi karena hujan dan beban kendaraan berat. Tapi sekarang responnya lebih cepat. Ini jauh lebih baik,” katanya.

Supeno berharap, dengan normalisasi yang dilakukan secara cepat dan tepat, risiko banjir serta limpasan air ke jalur Pantura dapat ditekan.

Dengan demikian, aktivitas masyarakat dan arus lalu lintas nasional tetap aman dan lancar, khususnya di musim hujan. (dik/him)

Editor : Abdul Rochim