KUDUS — Bupati Kudus Sam’ani Intakoris memastikan pemerintah daerah bergerak cepat (gercep) menangani puluhan siswa yang mengalami dugaan keracunan makanan di SMA Negeri 2 Kudus.
Ia menyampaikan bahwa sejak pagi pihaknya langsung berkoordinasi dengan unsur TNI, Polri, dan tenaga kesehatan guna memastikan seluruh korban tertangani dengan baik.
“Hari ini saya langsung menyambangi Dandim. Gerak cepat dilakukan karena keluhan yang muncul cukup serius, mulai dari mules, diare, hingga pusing. Komitmen kami adalah memastikan seluruh korban dirawat dengan optimal,” ujar Sam’ani.
Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh rumah sakit yang telah sigap memberikan pelayanan.
Berdasarkan data sementara (saat pukul 12.00 WIB), total korban yang menjalani perawatan medis mencapai 70 siswa dengan rincian sebagai berikut:
- RSUD dr. Loekmonohadi merawat 22 siswa,
- RS Sarkies 17 siswa,
- RS Mardi Rahayu 10 siswa,
- RS Islam 10 siswa,
- dan RS Kumalasiwi 11 siswa.
Untuk memastikan tidak ada korban yang luput dari penanganan, tim gabungan TNI, Polri, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus kembali melakukan penyisiran di lapangan.
Langkah ini dilakukan guna mengantisipasi adanya siswa lain yang mengalami gejala serupa namun belum melapor.
Terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Sam’ani menegaskan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diminta tetap menyediakan makanan yang aman dan sehat.
Evaluasi menyeluruh akan dilakukan bersama seluruh pihak terkait.
“Besok akan kami kumpulkan semua pihak. Sebenarnya bukan hari ini, kemarin sudah kami kumpulkan untuk memastikan penyediaan makanan dengan kualitas terbaik. Ke depan pengawasan akan diperketat,” tegasnya.
Pemkab Kudus juga akan berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk merumuskan langkah-langkah cepat dan pembenahan sistem agar kejadian serupa tidak terulang.
Sementara itu, Dinas Kesehatan kembali diterjunkan ke SMA Negeri 2 Kudus untuk memberikan pendampingan sekaligus memastikan kondisi psikologis siswa tetap terjaga dan merasa aman.
Dalam rangka penelusuran penyebab kejadian, sampel makanan serta sampel feses korban akan diambil untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.
Hasilnya akan menjadi dasar evaluasi lebih lanjut.
Bupati menegaskan seluruh biaya perawatan korban ditanggung penuh oleh pemerintah daerah. Hal tersebut dimungkinkan karena kejadian ini dikategorikan sebagai kejadian luar biasa (KLB).
“Semua perawatan gratis. Cakupan UHC kita sudah 99 persen, jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” tandasnya.
Meski tengah dilakukan evaluasi, Sam’ani menyebut operasional SPPG tetap berjalan pada esok hari dengan pengawasan ketat dari pemerintah daerah. (san)
Editor : Abdul Rochim