KHAZANAH - Fenomena maraknya ujaran kebencian, terutama di media sosial, menjadi perhatian utama dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi ke-167 pada Sabtu (15/11).
Pengasuh Suluk Maleman Anis Sholeh Ba'asyin, mengajak masyarakat untuk melakukan muhasabah diri di tengah perubahan sosial yang begitu cepat.
Ia menyoroti kecenderungan sebagian orang yang mudah menyudutkan pesantren tanpa memahami persoalan sebenarnya.
“Orang tidak melihat akar masalah, tetapi lebih suka menuding. Padahal, di Jawa, jika satu jari menuding orang lain, empat jari lainnya justru menuding diri sendiri,” tegas Anis membuka dialog.
Anis mengaku prihatin melihat ada orang yang berani memaki kiai.
“Jangan merasa diri paling benar. Pengetahuan yang kita anggap benar belum tentu merupakan kebenaran itu sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, hampir 95 persen reaksi manusia dipengaruhi oleh apa yang telah masuk ke dalam diri mereka sebelumnya.
Karena itu, lingkungan dan budaya memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang berpikir dan bertindak.
“Bisa jadi apa yang kita anggap benar hanyalah persoalan sudut pandang,” tambahnya.
Ia mencontohkan perbedaan budaya: di Arab, memegang jenggot seseorang adalah bentuk penghormatan, tetapi di Jawa bisa dianggap penghinaan.
“Reaksi seseorang akan berbeda sesuai budaya tempat ia dibesarkan,” jelasnya.
Anis menegaskan bahwa kecenderungan menyalahkan hal-hal yang tidak sesuai dengan budaya sendiri merupakan bentuk bias kognitif.
“Minimnya pengetahuan membuat seseorang tampak salah. Kita tidak mungkin menyentuh kebenaran tanpa membersihkan diri. Dan membersihkan diri pun hanya mungkin dengan pertolongan Allah,” ungkapnya.
Karena itu, ia mengingatkan bahwa siapa pun yang hendak berpendapat harus terlebih dahulu membersihkan persepsi diri.
“Bertanyalah pada diri sendiri: apa kepentingannya, dan pengetahuan apa yang membuat saya menyatakan pendapat seperti ini?” katanya.
Ia juga menyinggung adanya sebagian kecil perilaku Gus atau oknum yang mungkin berlebihan, tetapi justru pesantren sebagai lembaga yang disalahkan.
“Padahal di semua lembaga pasti ada orang bermasalah. Namun kita diarahkan untuk hanya melihat yang buruk. Itu tidak adil dan terkesan jahat,” ujarnya.
Menurut Anis, tantangan terbesar manusia adalah menghadapi dirinya sendiri—termasuk hawa nafsu dan penyakit hati.
“Kadang kebenaran justru tertutup oleh kebencian. Bahkan para nabi dan rasul yang begitu mulia pun masih ada yang memusuhi dan memfitnah mereka,” tuturnya.
Ia menutup dengan mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki potensi penyakit hati jika tidak diarahkan.
“Jangan merasa paling benar. Jangan merasa diri paling mukmin. Jangan mudah menyebut orang lain kafir atau munafik sambil menganggap diri sendiri paling beriman,” pesan Anis. (aua)
Editor : Achmad Ulil Albab