Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Gara-Gara Pabrik Garmen, Perajin Gerabah Jepara Mulai Berkurang

Nibros Hassani • Sabtu, 11 Mei 2024 | 18:13 WIB
HASIL KARYA: Seorang juru melihat lukisan gerabah hasil karya anak SMP se-Kabupaten Jepara pada saat diadakannya lomba melukis gerabah di SMK 2 N Jepara. (NIBROS HASSANI/JAWA POS RADAR KUDUS)
HASIL KARYA: Seorang juru melihat lukisan gerabah hasil karya anak SMP se-Kabupaten Jepara pada saat diadakannya lomba melukis gerabah di SMK 2 N Jepara. (NIBROS HASSANI/JAWA POS RADAR KUDUS)

 


JEPARA, RADARPATI.ID – Jumlah perajin gerabah tahun ke tahun semakin berkurang. Di antara mereka lebih tertarik kerja di pabrik.

Diketahui, selain ukir, mebel dan lainnya, Jepara juga dikenal sebagai pemasok gerabah atau keramik.

Produksi gerabah atau keramik itu terlihat di Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong.

Pemerintah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan dari data terakhir mencatat, ada 50 unit usaha yang bergerak pada produksi gerabah tradisional ini.

Gerabah tersebut dipasarkan secara lokal, dan dihasilkan dari sekitar 350 pekerja.

Kasturi, seniman keramik asal Mayong mengaku telah membuat keramik sejak tahun 90-an.

Ia mengakui meski masih eksis, keramik mayong sulit diregenerasi. Terlebih dengan tantangan era Industri, dimana banyak anak muda Jepara lebih memilih bekerja di pabrik.

Padahal, seni keramik tersebut bisa jadi tidak bisa digantikan dan memiliki kekhasan—karena dibuat dari tangan.

Keramiknya pun sempat ekspor ke Asia bahkan Eropa, dengan kata lain berpotensi untuk ekspor.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Zamroni Lestiaza melalui Kepala Bidang Perindustrian Dhaula Patta Raya menjelaskan industri gerabah Mayong Kidul memang berpotensi untuk terus dikembangkan.

Meski memang, diakui sempat terkendala oleh perajin atau SDM-nya yang terpengaruh oleh industri garmen dan sepatu.

“Rata-rata SDMnya lari ke industri besar,” jelas Dhaula.

Pihaknya juga terus memberikan pelatihan pembuatan gerabah dengan anggaran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) sebagai salah satu upaya melestarikan industri tersebut.

“Masih bisa berpotensi untuk berkembang memang,” jelasnya. (nib/zen)

 

Editor : Achmad Ulil Albab
#gerabah #Mayong #jepara #pabrik garmen #Perajin #pekerja