Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Air dari Ki Ageng Selo hingga Sendang Sinawah Dipakai Jamas Pusaka Grobogan

Intan Maylani Sabrina • Kamis, 26 Februari 2026 | 21:51 WIB

JAMASAN: Sejumlah keris saat dijamas di Museum Lokal Purwodadi.
JAMASAN: Sejumlah keris saat dijamas di Museum Lokal Purwodadi.

GROBOGAN – Pemerintah Kabupaten Grobogan menggelar prosesi jamas pusaka di Museum Lokal Purwodadi, Kamis (26/2), sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-300 Kabupaten Grobogan.

Tradisi sakral ini menjadi simbol perenungan sekaligus pengingat pentingnya menjaga warisan budaya leluhur.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Grobogan, Wahono, menegaskan bahwa jamas pusaka bukan sekadar ritual membersihkan benda bersejarah, tetapi juga sarat makna filosofis bagi penyelenggara pemerintahan.

“Ketika pusaka dibersihkan, itu menjadi simbol bahwa kita pun harus membersihkan diri dalam menjalankan tugas. Dengan hati dan niat yang bersih, pekerjaan akan lebih terpuji dan mampu membawa Grobogan semakin maju,” ujarnya.

Sebanyak 15 pusaka dijamas dalam prosesi tersebut, terdiri dari sepuluh keris dan lima bilah tombak yang selama ini tersimpan sebagai koleksi bersejarah daerah.

Ketua Kasepuhan Wijayakusuma, Haryoko, menyebut tradisi ini juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar tetap mencintai dan melestarikan budaya Jawa.

“Kita sebagai generasi penerus wajib nguri-nguri budaya Jawa, termasuk merawat pusaka seperti keris dan tombak sebagai peninggalan para leluhur,” katanya.

Prosesi diawali dengan Kirab Tirta Kamulyan, yakni pengambilan air suci dari sejumlah petilasan leluhur Grobogan, di antaranya Ki Ageng Selo, Ki Ageng Tarub, Ki Ageng Getas Pendowo, serta Sendang Sinawah.

Air tersebut kemudian diberi campuran bunga dan wewangian, serta ramuan tradisional Jawa yang berfungsi merawat sekaligus “meremajakan” pusaka.

Tahapan pembersihan dilakukan secara bertahap menggunakan jeruk nipis, air kelapa hijau, hingga digosok dengan serabut kelapa. Setelah itu, pusaka diberi warangan—lapisan khusus berbahan ramuan tradisional—untuk menjaga ketahanan dan keindahan bilahnya.

Menurut Haryoko, setiap pusaka memiliki makna dan fungsi simbolis berbeda, mulai dari perlindungan (tolak bala), ketenteraman, hingga harapan kesejahteraan ekonomi.

Ia juga menyebut, pusaka yang tersimpan di Grobogan diyakini memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah leluhur Jawa.

Melalui tradisi jamas pusaka ini, Pemkab Grobogan berharap peringatan tiga abad daerah tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga momentum memperkuat jati diri, spiritualitas, dan komitmen membangun daerah berlandaskan nilai-nilai budaya. (int)

Editor : Abdul Rochim
#jamas pusaka #ki ageng selo #grobogan