
GROBOGAN – Kekeringan di Jawa Tengah memasuki fase yang perlu diwaspadai. Kabupaten Grobogan menjadi satu dari 14 daerah yang ditetapkan berstatus Awas Kekeringan Meteorologis pada periode 21–31 Agustus 2026.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengurangi dampak kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga September.
Salah satu upaya yang didorong Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen yakni modifikasi cuaca.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi dampak kekeringan berkepanjangan di sejumlah wilayah.
“Dengan harapan bisa mengurangi kekeringan panjang di tahun ini,” kata Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin.
Status Awas tersebut ditetapkan berdasarkan peringatan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah. Selain Grobogan, 13 daerah lainnya yakni Demak, Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, Sragen, Karanganyar, Purworejo, Klaten, Magelang, Cilacap, dan Wonogiri.
Yang membuat kondisi semakin perlu diantisipasi, BMKG memperkirakan seluruh wilayah Jawa Tengah masih berpeluang mengalami curah hujan rendah hingga akhir September.
Bahkan, awal September dipetakan sebagai fase paling kering.
Di Kabupaten Grobogan, BPBD telah menyiapkan berbagai langkah untuk menghadapi kondisi tersebut.
Salah satunya dengan memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan agar penanganan dapat dilakukan secara lebih terarah.



