Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Ini Sosok Yon Suprayoga, Pelestari Kesenian Laesan khas Rembang

Abdul Rochim • Kamis, 9 Oktober 2025 | 01:50 WIB

 

Yon Suprayoga, sosok yang menghidupkan lagi laesan.
Yon Suprayoga, sosok yang menghidupkan lagi laesan.

 

RADAR PATI - Laesan, kesenian tradisional dari Lasem, Rembang, sempat meredup.

Yon Suprayoga, budayawan Lasem, datang membawa semangat untuk melestarikan lagi.

Kini laesan makin dikenal, bahkan tampil di panggung nasional.

VACHRI RINALDY L, Rembang

KETUKAN alat bambu mengiringi nyanyian berbahasa Jawa dengan nada ceria.

Satu orang tampak berjoget bebas di tengah mengenakan pakaian serba hitam.

Tembang-tembang yang dibawakan mampu mengubah suasana malam diselimuti kegembiraan.

Ya, itulah gambaran cuplikan kesenian laesan, khas Kecamatan Lasem, Rembang.

Pertunjukannya biasa digelar tanpa panggung khusus. Hanya di tanah lapang yang dipenuhi para penonton. Biasanya dimainkan sekitar 12 personel.

Penari yang tampil juga bergerak bebas, seakan terhipnotis mengikuti iringan musik.

Kesenian ini bisa dibilang langka. Sebab, sejauh ini di Rembang hanya ada satu kelompok yang memainkan, yakni Yon Suprayoga dan rekan-rekannya.

Dulu, kata Yon Suprayoga, semasa ia kecil, laesan kerap ditampilkan di Lasem. Terutama ketika ada orang punya hajat.

Terkadang juga dimainkan tanpa moment khusus atau sekadar untuk hiburan.

Namun, kesenian ini sempat meredup pada sekitar 1970-an, karena adanya rumor mistis yang melekat padanya.

Yon -sapaan akrabnya- merasa terkesan dengan kesenian ini, karena syair tembangnya yang simpel dan mudah dihafal. Moment itu yang membuatnya kangen.

Hingga pada sekitar 1980-an, ia terbesit untuk menghidupkan lagi. Yon pun sowan kepada para sesepuh pemain laesan.

Namun, yang bersangkutan menolak. ”Tidak berani, keluarganya tidak memperbolehkan. Karena branding laesan itu gelap,” jelasnya.

Meski begitu, Yon tidak lantas menyerah. Ia pun mencoba mengombinasikan Laesan dengan teater.

”Saya masih ingat, saya membuat naskah sendiri. Judulnya Ken Arok,” kenang pria yang saat ini berusia 65 tahun itu.

Inovasi itu pun diterima. Ia juga yakin, jika para sesepuh mendengarkan lagi laesan, maka keinginan untuk memainkan juga akan muncul.

”Pentasnya itu sukses. Saya memang menghendaki suksesnya itu bukan teaternya, tetapi mbah-mbah itu mendengarkan laesan,” jelasnya.

Dari situ, kesenian laesan kembali hidup. Proses latihan juga berjalan.

Kini, kesenian laesan terus mendapatkan antusiasme dari generasi muda. Apalagi seiring dengan perkembangan informasi melalui media sosial (medsos).

”Saya mengakui, peran dari medsos, dari media terutama besar sekali. Terutama untuk pelestarian laesan itu sendiri. Anak muda menjadi kepo kalau ada pertunjukan laesan yang ramai seperti dulu,” ungkapnya.

Laesan semakin eksis. Baru-baru ini, kesenian khas Lasem itu, tampil di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Yon bercerita, saat di Jakarta, laesan dijadwalkan tampil sekitar pukul 12.00.

Namun, saat itu para tamu undangan belum banyak yang datang. Karena kesenian ini menarik perhatian, akhirnya pada pukul 13.00, laesan diminta tampil lagi.

”Ada permintaan untuk laesan main lagi. Akhirnya tampil dua kali, karena para penonton di Jakarta penasaran. Masyarakat perantau yang kangen dengan laesan,” katanya.

Bahkan, setelah tampil, tim laesan Lasem juga mendapatkan tawaran untuk tampil dalam acara khusus.

”Itu salah satu yang membuat laesan kembali bersemangat,” imbuhnya. (*/lin)

Editor : Abdul Rochim
#rembang #kesenian laesan