Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

SOSOK Perajin Biola Bambu asal Kudus: Laku dengan Harga Rp 4 Juta, Tembus Pasar Luar Negeri

Abdul Rochim
Penulis: Abdul Rochim❯
Ngatmin menunjukkan biola berbahan bambu hasil karyanya di Kudus. (RAYA JAYANA PUTRI/MAGANG/RADAR KUDUS)
Ngatmin menunjukkan biola berbahan bambu hasil karyanya di Kudus. (RAYA JAYANA PUTRI/MAGANG/RADAR KUDUS)

Advertisement

KUDUS – Berbekal keterampilan mengolah kayu, Ngatmin atau akrab disapa Mbah Min berhasil mengembangkan biola berbahan bambu yang memiliki ciri khas tersendiri.

Advertisement

Kerajinan ini menjadi inovasinya dalam memanfaatkan bahan lokal sekaligus menghadirkan alternatif alat musik dengan sentuhan seni tradisional.

Biola bambu buatannya dibanderol Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per unit. 

Produk tersebut pernah mengikuti kompetisi tingkat nasional pada 2025 dan dikirim ke luar negeri, termasuk Hong Kong dan Malaysia.

Perjalanan Mbah Min mengembangkan biola dimulai pada 2009 saat berada di Bogor.

Ketika itu, ia bekerja sama dengan seorang mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang ingin membuat alat musik sendiri untuk kebutuhan pembelajaran musik.

Meski sudah terbiasa mengolah kayu, membuat biola bukan perkara mudah. Mbah Min harus mempelajari teknik pembuatan alat musik secara otodidak, salah satunya melalui video YouTube.

Proses belajar itu menjadi bekal untuk mengembangkan keterampilannya.

Setelah kembali ke Kudus pada akhir 2013, ia mulai memikirkan cara menghadirkan produk berbeda dari biola berbahan kayu yang lebih umum dijumpai.

Inspirasi datang dari alat musik tradisional seperti suling dan angklung yang memanfaatkan bambu.

Ia kemudian mencoba sejumlah jenis bambu, termasuk bambu petung dan bambu ulung.

Dari percobaan tersebut, bambu petung dinilai lebih cocok untuk menghasilkan karakter suara yang diinginkan.

“Terinspirasi dari alat musik seperti suling dan angklung. Itu kan memang bahannya dari bambu,” ungkapnya.

Keunikan produknya tidak hanya terletak pada bahan. Mbah Min juga memberikan sentuhan ornamen pada bagian kepala biola dengan bentuk menyerupai wayang, garuda, hingga kuda.

 Selain menjadi pembeda secara visual, bentuk tersebut membawa unsur filosofi dan budaya dalam sebuah alat musik.

Inovasi biola bambu itu mengantarkannya mengikuti kompetisi nasional pada 2025 dalam kategori produk berbahan kayu.

Ia mengaku memperoleh penghargaan dalam ajang tersebut. Karyanya juga pernah dikirim ke sejumlah negara, termasuk Hong Kong dan Malaysia.

Penjualan Belum Menentu, Tetap Menjadi Tukang Kayu

Meski telah memperoleh pengakuan, perjalanan usaha Mbah Min belum selalu berjalan mulus.

Penjualan produk seni cenderung sulit diprediksi, sementara persaingan dengan alat musik produksi pabrik dari luar negeri menjadi tantangan tersendiri.

Jika fokus mengerjakan biola, ia mampu menghasilkan sekitar lima unit dalam sebulan.

Namun, jumlah produksi bergantung pada waktu pengerjaan dan pesanan yang diterima.

“Yang namanya barang seni itu tidak bisa diprediksi,” ujarnya.

Karena permintaan belum stabil, Mbah Min tetap menjalani pekerjaan sebagai tukang kayu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Penghasilan dari pekerjaan tersebut menjadi penopang utama, sedangkan penjualan kerajinan menjadi tambahan pendapatan.

Di luar biola bambu, ia juga membuat miniatur Menara Kudus berbahan kayu jati.

Produk ini menyasar wisatawan, tamu instansi, sekolah, hingga pengunjung dari luar daerah yang ingin membawa pulang cendera mata khas Kudus.

Miniatur Menara Kudus dijual mulai Rp150 ribu hingga Rp400 ribu, bergantung pada ukuran dan tingkat detail pengerjaan.

Pembeli juga bisa memesan desain khusus, termasuk penambahan logo instansi.

Pemasaran dilakukan melalui pesanan serta penitipan produk di sejumlah tempat.

Menurut Mbah Min, sekolah dan rombongan kunjungan menjadi salah satu segmen yang cukup sering memesan kerajinannya. Jumlah produk dan waktu pengerjaan disesuaikan dengan kesepakatan bersama pembeli.

Karya Mbah Min memperlihatkan bagaimana bahan lokal dapat dikembangkan menjadi produk bernilai seni dengan identitas daerah yang kuat.

Namun, kreativitas dan penghargaan belum otomatis menjamin pendapatan yang konsisten.

Perluasan pemasaran dan keberlanjutan permintaan menjadi faktor penting agar biola bambu serta miniatur Menara Kudus dapat terus berkembang sebagai produk kerajinan khas Kudus. (ray)

Advertisement

Artikel Terkait

Momini3D, Cara Achmed Ben Bella Mengubah Ikon Kudus Jadi Suvenir Mini

Momini3D, Cara Achmed Ben Bella Mengubah Ikon Kudus Jadi Suvenir Mini

Achmed Ben Bella mengembangkan Momini3D, miniatur ikon Kudus berbahan PLA dengan teknologi 3D printing. Harganya Rp5 ribu hingga Rp100 ribu dan menyasar wisatawan serta pasar suvenir lokal.

Tim Tari SMP 1 Kudus Sabet Medali Emas FLS3N 2026 Tingkat Nasional

Tim Tari SMP 1 Kudus Sabet Medali Emas FLS3N 2026 Tingkat Nasional

Lima siswa SMP 1 Kudus meraih medali emas cabang tari kreasi FLS3N 2026 tingkat nasional. Prestasi ini turut menambah kebanggaan Jawa Tengah yang menjadi juara umum dengan total 24 medali.

50 Ribu Santri Meriahkan Mlampah Sareng Santri di Kudus, Bupati Tekankan Pentingnya Teknologi

50 Ribu Santri Meriahkan Mlampah Sareng Santri di Kudus, Bupati Tekankan Pentingnya Teknologi

Sebanyak 50 ribu santri meramaikan Mlampah Sareng Santri di Kudus pada HSN 2026. Bupati Sam’ani Intakoris mengajak santri mendalami agama, ilmu umum, dan teknologi.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer