
Melalui merek Momini3D, Achmed ingin menghadirkan pilihan oleh-oleh yang menggambarkan identitas dan warisan sejarah Kudus.
Produk buatannya dibanderol mulai Rp 5 ribu hingga Rp 100 ribu per unit, bergantung pada jenis dan ukuran.
Di ruang kerjanya di Kelurahan Mlatinorowito, Kecamatan Kota, Achmed terlihat merancang miniatur Menara Kudus melalui layar komputer.
Desain tiga dimensi itu dibuat menggunakan aplikasi Blender, kemudian dicetak dengan mesin 3D printer.
Etalase di ruang kerjanya memajang beragam hasil karya.
Mulai miniatur Menara Kudus dalam berbagai ukuran, Gerbang Kota Kretek, figur penari kretek, hingga gantungan kunci bergambar kawasan Alun-alun Simpang Tujuh.
Ada pula tempat tisu dengan miniatur Gunung Muria di bagian atasnya.
Achmed mulai mencoba membuat miniatur ikon Kudus pada Juli 2026.
Ide itu muncul setelah seorang temannya bercerita tentang oleh-oleh khas yang dibawa sepulang dari Istanbul, Turki.
Ia kemudian berpikir bahwa Kudus juga memiliki banyak ikon sejarah yang layak diabadikan menjadi cendera mata.
“Saya mulai mencoba membuat miniatur ini Juli 2026, ya ada teknologi canggih kenapa harus manual. Untuk membuat desain saya menggunakan aplikasi Blender (untuk desain dalam bentuk 3D),” jelasnya.
Menurut Achmed, produk miniatur dapat menjadi alternatif suvenir bagi wisatawan yang berkunjung ke Kudus. Sejauh ini, pemasaran Momini3D belum dilakukan secara luas.
Namun, sejumlah pesanan sudah datang dari teman-temannya untuk dijadikan oleh-oleh.
“Ya, jadilah saya membuat miniatur ikon Kudus. Untuk pemasaran sekarang ini belum, tapi pemesanan ada datang dari teman untuk oleh-oleh. Niat saya membuat ini nantinya akan saya titipkan ke pusat-pusat oleh-oleh. Produk ini saya beri label Momini3D,” ujarnya.
Berawal dari Hobi Membuat Karya Mini
Ketertarikan Achmed terhadap karya berukuran kecil sudah tumbuh sejak lama.
Sebelumnya, ia membuat miniatur karakter kartun secara manual menggunakan tanah liat.
Prosesnya cukup panjang, bahkan bisa memakan waktu lebih dari satu bulan untuk menyelesaikan satu karya.
Teknologi cetak tiga dimensi membuat proses produksi menjadi lebih praktis.
Setelah desain selesai dibuat di komputer, mesin printer mencetak bentuk miniatur sesuai rancangan.
“Kalau untuk desain saya belajar secara otodidak. Dan, memang saya suka membuat karya seni yang mungil-mungil. Saya sebelumnya, membuat miniatur karakter kartun dengan cara manual dari tanah liat, hasilnya lama sebulan lebih. Itu saja saya bisa, apalagi ini tinggal desain di komputer lalu di prin pakai 3Dprinting. Prosesnya makin cepat,” terangnya.
Miniatur yang dibuat menggunakan bahan plastik Polylactic Acid (PLA).
Material tersebut dicetak dengan mesin 3D printer, kemudian diberi warna secara manual menggunakan pensil warna akrilik.
Bahan PLA diperoleh melalui pembelian daring dari Jakarta.
Sementara itu, mesin 3D printer yang digunakan Achmed dibeli secara online dengan harga sekitar Rp3 juta.
“Untuk bahan PLA-nya saya lewat online dari Jakarta. Seperti alat 3D printer ini saya beli online dan harga Rp 3 juta. Yang penting itu memiliki bakat seni. Medianya apapun bakal jadi,” imbuhnya.
Produk utama Momini3D saat ini berupa miniatur bangunan bersejarah dan objek cagar budaya khas Kudus.
Beberapa di antaranya adalah Menara Kudus, Masjid Al Aqsho, dan gapura Makam Sunan Kudus.
Gantungan kunci serta pajangan Menara Kudus menjadi salah satu produk yang diandalkan.
Dalam proses desain, Achmed juga memanfaatkan referensi dari Google Maps.
Bentuk Alun-alun Simpang Tujuh dilihat dari atas, misalnya, menjadi acuan untuk menghasilkan miniatur yang mendekati bentuk aslinya.
Ia juga menggunakan referensi peta tiga dimensi untuk membuat bentuk Gunung Muria lebih presisi.
Saat ini, Achmed masih bertugas di Semarang sehingga hanya bisa mengerjakan miniatur pada hari libur, terutama Sabtu dan Minggu.
Meski demikian, ia ingin mengembangkan Momini3D agar semakin dikenal wisatawan dan menjadi kenang-kenangan setelah mereka meninggalkan Kudus.
“Ya pikiran saya saat ini ingin mengembangkan Momini 3D ini untuk wisatawan dan mereka memiliki kenangan usai kembali lagi ke daerahnya. Event di Kudus banyak bahkan internasional seperti olahraga baru-baru ini, bisa dijadikan suvenir,” ungkapnya.
Ia menilai berbagai kegiatan di Kudus berpotensi menjadi pasar bagi produk suvenir lokal.
Ajang trail run di kawasan Colo, Kecamatan Dawe, misalnya, dapat menjadi momentum untuk menghadirkan cendera mata khas daerah.
Ke depan, Achmed juga berencana membuka layanan pesanan khusus untuk berbagai acara, termasuk pernikahan.
Dengan begitu, miniatur tidak hanya menjadi oleh-oleh wisata, tetapi juga suvenir personal yang memiliki ciri khas Kudus. (*)




