Bentuknya tak banyak berubah, mesinnya jauh dari kata modern.
Tetapi pesonanya seolah menolak dimakan usia.
Skuter asal Italia itu tetap memiliki tempat tersendiri di hati para penggemarnya.
Bukan karena paling cepat.
Bukan pula karena paling praktis.
Melainkan karena karakter dan sensasi berkendara yang sulit ditemukan pada motor masa kini.
Memiliki Vespa klasik pun bukan perkara sederhana.
Selain harga unitnya yang relatif tinggi, motor tua membutuhkan perhatian lebih dalam perawatan.
Bayangkan saja, sebuah Vespa Sprint keluaran era 70-an kini bisa dibanderol sekitar Rp 25 juta.
Untuk unit dengan kondisi dan restorasi tertentu, harganya bahkan dapat menembus Rp30 juta atau lebih.
Tak sedikit Vespa klasik dengan kondisi istimewa yang memiliki nilai hingga ratusan juta rupiah.
Jika dibandingkan dengan kebutuhan mobilitas sehari-hari, pilihan motor matik seperti Honda Vario tentu terasa lebih masuk akal.
Praktis, mudah dikendarai, perawatannya relatif sederhana. Serta harga yang lebih bersahabat.
Namun, bagi sebagian orang, kendaraan tidak selalu soal hitung-hitungan rasional.
Ada unsur selera, kecintaan, sekaligus kepuasan ketika mengendarainya.
“Lebih ke kesukaan dan selera. Tapi yang penting, kami punya motor utama seperti matik. Vespa ini ibarat hobi,” kata salah satu pecinta Vespa, Andromeda Putra Wijanarko.
Bagi Andro, Vespa bukan kendaraan yang harus menggantikan motor utama. Ia justru menjadi kendaraan untuk menikmati perjalanan sekaligus menyalurkan hobi.
Penggunaannya pun berbeda-beda. Ada pemilik yang menjadikan Vespa klasik sebagai kendaraan harian.
Ada pula yang hanya mengeluarkannya pada waktu tertentu.
Seperti ketika berkumpul dengan komunitas atau sekadar menikmati perjalanan santai.
Andro sendiri menyadari penggunaan Vespa tua untuk aktivitas sehari-hari membutuhkan perhatian ekstra.
“Mengingat Vespa ini motor tua. Tentu perawatan akan lebih jika digunakan tiap hari,” paparnya.
Menjaga Vespa klasik tetap menarik bukan berarti harus mengubahnya secara berlebihan.
Sentuhan kecil melalui restorasi justru dapat membuat tampilannya kembali segar tanpa menghilangkan karakter aslinya.
Mulai dari memperbarui cat hingga menambahkan aksesori tertentu bisa dilakukan sesuai selera pemilik.
Andro memilih memberikan sedikit sentuhan pada Vespa Sprint miliknya.
Namun, ia tidak ingin menghilangkan identitas asli skuter tersebut.
“Memang tergantung. Ada yang suka mempertahankan orinya. Juga ada yang dipoles sedikit seperti saya,” ucapnya.
Di situlah daya tarik Vespa klasik berada. Desainnya sederhana, ikonik, dan tidak berusaha mengikuti tren yang datang silih berganti.
Ketika sejumlah motor modern dapat terlihat ketinggalan zaman setelah beberapa tahun, Vespa klasik justru memiliki kemampuan untuk tetap relevan.
Bentuknya yang khas membuat sebuah Vespa dapat dikenali bahkan dari kejauhan.
Ia bukan sekadar alat transportasi, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari budaya otomotif.
Mengendarai Vespa klasik juga menawarkan pengalaman berbeda.
Motor ini bukan kendaraan bagi mereka yang sekadar ingin duduk, memutar gas, kemudian melaju.
Pengendara harus benar-benar berinteraksi dengan mesin.
Transmisi manual dengan perpindahan gigi melalui tuas di setang kiri membuat setiap perjalanan memiliki ritmenya sendiri.
Tangan harus bekerja, telinga mendengarkan karakter mesin. Sementara pengendara perlu menyesuaikan putaran mesin dengan perpindahan gigi.
“Intinya dengan perasaan. Bahasa kami ngemong mesin,” ucapnya.
Setiap operan gigi terasa di jemari. Tarikan gas pun memiliki respons dan karakter yang berbeda dibandingkan motor matik modern.
Belum lagi suara mesin dua langkah yang khas.
Getaran mesin, kepulan asap, hingga aroma oli samping menjadi bagian dari pengalaman yang justru dirindukan para penggemarnya.
Bagi sebagian orang, aroma oli samping tersebut bahkan seperti parfum nostalgia yang membawa kembali suasana masa lalu.
Mesinnya memang tidak sehalus kendaraan modern.
Tetapi justru ketidaksempurnaan itulah yang membuat Vespa memiliki jiwa.
Motor tersebut seakan mengajak pengendaranya untuk tidak sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Tetapi menikmati perjalanan itu sendiri.
Karena alasan itulah Andro memilih mempertahankan mesin standar Vespa miliknya.
Ia tidak tertarik melakukan modifikasi ekstrem hanya demi mengejar performa.
Di kalangan penghobi, modifikasi mesin Vespa hingga berkapasitas lebih dari 200 cc bukan hal yang mustahil.
Namun, bagi Andro, Vespa tidak harus dipaksa menjadi motor kencang.
“Mungkin ada yang modifikasi mesin sampai total. CC-nya lebih dari 200. Tapi saya tidak. Vespa bukan soal kecepatan. Pelan tapi pasti. Hargai setiap momen. Karena itulah yang bikin orang naik Vespa ini beda hawanya. Elegan,” paparnya.
Pada akhirnya, Vespa klasik bukan hanya tentang usia sebuah kendaraan.
Ia adalah tentang bagaimana sebuah mesin tua tetap mampu menawarkan pengalaman yang tidak diberikan motor modern.
Setiap goresan pada bodinya bisa menjadi cerita.
Setiap suara mesin membawa kenangan. Bahkan proses merawatnya pun menjadi bagian dari kesenangan memiliki.
Di tengah industri otomotif yang terus bergerak menuju kendaraan semakin cepat, praktis, dan terkomputerisasi, Vespa justru bertahan dengan cara yang berbeda.
Ia mengajak pengendaranya untuk sedikit melambat, menikmati setiap perpindahan gigi, merasakan getaran mesin, dan menghargai proses.
Sebab bagi para pencintanya, Vespa klasik memang boleh tua.
Tapi karakternya tidak pernah usang.
“Ketika touring, bukan kecepatan yang diutamakan. Namun, bagaimana kita di jalan. Ketika orang berpacu pada kecepatan, tergesa-gesa. Vespa ini tampil beda. Tetap santai dan elegan,” pungkasnya. (adr)
Editor : Abdul Rochim