
PATI – Kekeringan ekstrem melanda 25 desa yang tersebar di sembilan kecamatan di Kabupaten Pati selama musim kemarau tahun ini. Sebelumnya, 20 desa sudah terdampak.
Kondisi tersebut berdampak pada 2.831 kepala keluarga (KK) atau sebanyak 9.323 jiwa yang mengalami krisis air bersih.
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Pati, Martinus Budi Prasetya, mengatakan Kecamatan Jakenan menjadi wilayah dengan dampak kekeringan paling parah. Tercatat ada tujuh desa di wilayah tersebut yang mengalami kekeringan secara bersamaan.
Baca Juga: Imbas Sungai Juwana Mengering, Petambak Pati Terancam Rugi Rp 50 Miliar
Selain Jakenan, kekeringan juga terjadi di Kecamatan Gabus, Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Winong, Pucakwangi, Jaken, dan Pati.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan warga, BPBD Pati telah menyiapkan 44 tangki air berkapasitas sekitar 4.000 hingga 5.000 liter.
Puluhan tangki tersebut dipinjam dari Balai Pengembangan Wilayah Jawa Tengah untuk mempercepat penyaluran air bersih ke desa-desa terdampak.
Martinus mengimbau masyarakat menggunakan persediaan air bersih secara bijak mengingat pasokan yang tersedia masih terbatas.
Di sisi lain, petani juga didorong mempertimbangkan tanaman palawija yang lebih tahan terhadap kondisi kering dibandingkan padi.
Menurut Martinus, melihat jumlah desa dan luas wilayah pertanian yang terdampak, kekeringan di Pati berpotensi mengalami peningkatan status menjadi tanggap darurat bencana.



