Alasan FIFA Tak Restui 4 Pemain Ini Bela Timnas Indonesia

Zakarias Fariury • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 10:31 WIB
Timnas Indonesia
Timnas Indonesia

RADARPATI.JAWAPOS.COM - Upaya memperluas pilihan pemain Timnas Indonesia melalui jalur keturunan tidak selalu berakhir sesuai harapan. Sejumlah pemain yang memiliki pengalaman merumput di Eropa ternyata menghadapi persoalan kelayakan, mulai dari asal-usul keluarga hingga persyaratan administrasi.

Dean Zandbergen menjadi salah satu nama terbaru yang mengalami kendala tersebut. Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, mengungkapkan bahwa sang penyerang tidak memenuhi syarat untuk memperkuat skuad Garuda melalui jalur keturunan.

Selain Zandbergen, nama Mauresmo Hinoke, Jairo Riedewald, dan Mitchel Bakker juga pernah dikaitkan dengan peluang memperkuat Merah Putih. Meski demikian, hambatan yang dialami masing-masing pemain tidak sama dan perlu dilihat berdasarkan situasi setiap kasus.

Regulasi FIFA mengatur persyaratan khusus bagi pemain yang ingin membela tim nasional suatu negara. Dalam jalur keturunan, hubungan keluarga melalui orang tua atau kakek-nenek kandung menjadi salah satu unsur penting, sementara jalur domisili mempunyai ketentuan berbeda.

Berikut empat pemain yang pernah masuk dalam pembahasan terkait penguatan Timnas Indonesia, tetapi menghadapi tantangan dalam prosesnya.

1. Dean Zandbergen, Terbentur Garis Keturunan

Dean Zandbergen sempat dipandang sebagai salah satu opsi untuk menambah kekuatan lini depan Timnas Indonesia. Namun, peluang tersebut menghadapi kendala setelah asal-usul keluarganya ditelusuri lebih jauh.

Penyerang berusia 25 tahun yang dikaitkan dengan Dinamo Bucuresti itu diketahui memiliki darah Indonesia dari buyutnya. Hubungan keluarga tersebut tidak memenuhi persyaratan umum jalur keturunan FIFA yang mensyaratkan hubungan melalui orang tua atau kakek-nenek kandung.

Baca Juga: Kenapa 4 Pemain Ini Tidak Boleh Naturalisasi untuk Timnas Indonesia?

John Herdman mengungkapkan bahwa pendekatan terhadap Zandbergen sempat dilakukan sebelum persoalan silsilah keluarganya diketahui. Kondisi tersebut membuat sang pemain tidak dapat melanjutkan peluang membela Indonesia melalui jalur keturunan berdasarkan informasi yang tersedia.

2. Mauresmo Hinoke, Pernah Berseragam Timnas U-20

Mauresmo Hinoke sempat menjadi perhatian pencinta sepak bola nasional setelah tampil bersama Timnas Indonesia U-20 dalam turnamen Maurice Revello 2024. Kehadirannya ketika itu memunculkan harapan bahwa ia dapat menjadi bagian dari kekuatan Indonesia pada masa mendatang.

Namun, rencana untuk memproses naturalisasinya melalui jalur keturunan menemui hambatan setelah latar belakang keluarganya diperiksa. Ahmed Zaki Iskandar, yang saat itu menjadi manajer Timnas Indonesia U-20, menyebut bahwa garis keturunan Indonesia Hinoke berasal dari generasi keempat.

Meski jalur tersebut menghadapi kendala, kesempatan Hinoke untuk membela Indonesia belum tentu tertutup melalui mekanisme lain. Jalur domisili masih dapat dipertimbangkan apabila ia memenuhi seluruh persyaratan FIFA dan ketentuan kewarganegaraan yang berlaku.

3. Jairo Riedewald, Terkendala Kelengkapan Dokumen

Berbeda dari Zandbergen dan Hinoke, persoalan yang mencuat dalam rencana naturalisasi Jairo Riedewald berkaitan dengan administrasi. Mantan pemain Ajax Amsterdam dan Crystal Palace tersebut pernah dipertimbangkan karena kemampuannya dapat menjadi tambahan bagi sektor tengah maupun pertahanan Timnas Indonesia.

Pada Februari 2025, Erick Thohir yang ketika itu menjabat Ketua Umum PSSI menjelaskan bahwa dokumen pendukung untuk melanjutkan proses Riedewald belum memiliki dasar yang cukup kuat. PSSI memilih berhati-hati daripada meneruskan pengajuan yang berisiko tidak memenuhi persyaratan.

Riedewald juga memiliki catatan tiga penampilan bersama tim senior Belanda dalam Kualifikasi Piala Eropa 2016 saat berusia 19 tahun. Riwayat tersebut membuat status perpindahan asosiasinya harus ditelaah berdasarkan aturan FIFA.

Meski demikian, catatan penampilan internasional itu tidak otomatis menjadi satu-satunya penentu. Kelayakannya tetap harus dinilai berdasarkan regulasi yang berlaku dan kondisi spesifik pemain.

4. Mitchel Bakker, Hubungan Keturunan Jadi Persoalan

Mitchel Bakker merupakan pemain yang pernah dikaitkan dengan Timnas Indonesia berkat pengalaman bermain di sejumlah klub Eropa. Bek tersebut tercatat pernah memperkuat Paris Saint-Germain, Bayer Leverkusen, dan Atalanta.

Bakker disebut mempunyai akar keluarga dari Maluku. Akan tetapi, penelusuran awal PSSI mengindikasikan bahwa hubungan keturunannya dengan Indonesia berasal dari buyut.

Anggota Komite Eksekutif PSSI, Arya Sinulingga, menyinggung kendala tersebut pada Januari 2025. Menurut penjelasan yang disampaikannya saat itu, garis keturunan dari generasi buyut membuat peluang Bakker melalui jalur keturunan menjadi sulit.

Berdasarkan informasi awal tersebut, PSSI tidak melanjutkan rencana yang berkaitan dengan sang pemain. Hambatan utamanya terletak pada persyaratan silsilah keluarga, bukan pada pengalaman atau kemampuan Bakker sebagai pesepak bola.

Kelayakan Pemain Tak Hanya Ditentukan Kualitas

Empat kasus tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman bermain di kompetisi Eropa belum cukup untuk memastikan seorang pemain bisa memperkuat Timnas Indonesia. Asal-usul keluarga, status kewarganegaraan, riwayat membela tim nasional lain, dan kelengkapan dokumen juga menjadi faktor penting.

Kendala yang dialami Zandbergen, Hinoke, Riedewald, dan Bakker memiliki latar belakang berbeda. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa seluruh pemain telah menerima penolakan resmi dari FIFA, sebab sebagian persoalan berkaitan dengan pemeriksaan silsilah atau administrasi yang belum tuntas.

Bagi PSSI, penelusuran menyeluruh terhadap persyaratan setiap pemain menjadi langkah penting sebelum proses naturalisasi atau perpindahan asosiasi dilanjutkan. Dengan demikian, potensi pemain keturunan dapat dikaji tanpa mengabaikan regulasi yang mengatur kelayakan mereka membela Timnas Indonesia. (*)

Editor : Zakarias Fariury
Piala Asia 2027 pemain naturalisasi piala dunia 2030 Timnas Indonesia kualifikasi