Berpacu dengan Waktu: Menyelematkan Pasien Stroke Melalui Code Stroke

Abdul Rochim • Dipublikasikan Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:38 WIB
Ilustrasi pasien mengalami gejala stroke. (Magnific)
Ilustrasi pasien mengalami gejala stroke. (Magnific)

Oleh: dr. Yudi Prasetyono, Sp.N, FINA *)

     PAGI pukul 08.30, Kamis 22 Oktober 2026, datang di UGD pasien yang dibawa oleh keluarganya.

Staf satpam mengenali pasien tersebut mengalami lumpuh separo tubuh.

Perawat dan dokter triase UGD menemukan terjadinya kelemahan anggota gerak kanan mendadak.

Pasien tidak bisa bicara pada pukul 05.30 pagi.

Pasien tersebut mengalami serangan stroke 3 jam sebelum tiba di UGD, kemudian mengaktifkan protokol code stroke. 

Tim code stroke bergerak tepat dan terukur sesuai tupoksi masing masing di bawah koordinasi dokter spesialis neurologi.

Tiga puluh menit kemudian data laboratorium, ct scan otak dan check list parameter stroke telah lengkap terkumpul. 

Dokter spesialis neurologi memutuskan untuk melakukan tindakan trombolisis, diawali dengan meminta persetujuan tindakan ke keluarga pasien.

Trombolisis dilakukan selama 60 menit. Hasilnya ada perbaikan peningkatan kekuatan anggota gerak kanan pasien.

Pasien merasa dari saat datang baru bisa menggerakan jari tangan dan kaki, menjadi dapat mengangkat lengan dan tungkai. 

Stroke merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang terjadi ketika aliran darah ke bagian otak terganggu, baik akibat sumbatan pembuluh darah maupun pecahnya pembuluh darah di otak.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak dan berisiko menimbulkan kecacatan, bahkan kematian, apabila tidak ditangani secara tepat.

Setiap waktu penundaan berarti hilangnya jutaan sel otak yang dapat memicu kelumpuhan permanen atau kematian.

Keberhasilan penanganan stroke sangat berkaitan dengan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam mengenali gejala awal stroke.

Salah satunya adalah metode FAST; terdiri dari F (face/wajah: tampak wajah tidak simetris/mulut merot), A (arm/lengan: lemah separo tubuh), S (speech/bicara: sulit/tidak bisa bicara, pelo), dan T (time/waktu: terjadi secara mendadak).  

Apabila gejala stroke dicurigai, jangan menunggu gejala membaik dengan sendirinya, segera menghubungi layanan kegawatdaruratan atau langsung dibawa ke rumah sakit.

Code stroke merupakan sistem respon cepat yang melibatkan tenaga medis (dokter umum UGD, dokter spesialis neurologi, dokter spesialis radiologi, dokter spesialis patologi klinik) dan tim kesehatan terkait (paramedis, apoteker farmasi klinis, laboratorium, radiografer) untuk mempercepat proses evaluasi, pemeriksaan, serta penentuan tindakan medis bagi pasien yang mengalami serangan stroke.

Protokol ini bertujuan memangkas waktu agar pasien mendapatkan penatalaksanaan sesuai kondisi klinisnya secara cepat tanpa kehilangan waktu yang berharga. 

Protokol code stroke dirancang khusus untuk pasien dengan gejala dan tanda stroke yang datang dalam periode emas stroke (golden periode) yaitu kurang dari 4,5 jam sejak gejala pertama kali muncul.

Sehingga pasien akan mendapatkan terapi reperfusi (pengaliran kembali) pembuluh darah otak yang tersumbat secepat mungkin dengan tindakan trombolisis intravena.

Sehingga semakin banyak jaringan saraf yang dapat diselamatkan, dan peluang pasien mengalami perbaikan nyata dari lemah anggota gerak atau gangguan bicara akan meningkat signifikan. 

Sebagian kasus setelah trombolisis perlu dilanjutkan dengan tindakan trombektomi mekanik (tindakan endovaskuler dengan DSA serebral untuk mengambil/menarik sumbatan pada pembuluh darah besar otak).
 

RSUD dr. R. Soetrasno Rembang membentuk tim code stroke pada Februari 2026, tercatat 52 pasien dilakukan protokol code stroke.

Dan 33 pasien di antaranya telah diakukan tindakan trombolisis  intravena dalam kurun waktu bulan Maret sampai Oktober 2026.

Hasil yang tercapai adalah nyata, yaitu terjadi penurunan disabilitas fisik paska stroke.

Ini merupakan bukti upaya RSUD dr. R. Soetrasno dalam perbaikan dan peningkatan pelayanan stroke, bertambah lagi dengan didukung oleh tersedianya fasilitas laboratorium kateterisasi untuk prosedur neurointervensi (DSA serebral dan trombektomi).

Melalui penguatan sistem respon cepat code stroke, koordinasi tim, serta dukungan fasilitas pelayanan, penanganan stroke menjadi semakin efektif dan beorientasi pada keselamatan pasien.

Edukasi kepada masyarakat, pengenalan gejala sejak dini dan akses cepat ke rumah sakit perlu berjalan beriringan, agar peluang pemulihan pasien dapat dioptimalkan.

Stoke adalah kondisi darurat yang membutuhkan tindakan cepat. Kenali gejalanya. 

Segera cari pertolongan. Percayakan penanganan pada tenaga kesehatan professional. (*)

*)Penulis adalah Code Stroke RSUD dr. R. Soetrasno Rembang

Editor : Abdul Rochim
RSUD dr. R. Soetrasno Rembang code stroke penanganan stroke trombolisis intravena gejala stroke FAST