REMBANG – Kegiatan belajar mengajar (KBM) di SMAN 1 Lasem, Rembang, kembali berjalan seperti biasa kemarin. Namun, masih ada 209 siswa yang belum masuk sekolah dari total 1.174 siswa.
Pembelajaran sudah berlangsung penuh, tetapi untuk sementara tidak ada distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pantauan Jawa Pos Radar Kudus di SMAN 1 Lasem kemarin, siswa, guru, dan tenaga tata usaha (TU) telah melaksanakan aktivitas sekolah seperti biasa.
Baca Juga: SPPG Soditan Lasem Jamin Biaya Pengobatan Korban Dugaan Keracunan MBG
Meski demikian, masih ada sejumlah siswa yang mengeluhkan sakit perut dan diare. Mereka membawa obat yang diberikan pihak sekolah.
Satu-dua siswa juga masih terlihat keluar kelas menuju toilet karena mengalami keluhan sakit perut. Namun, kondisi tersebut tidak sampai membuat mereka harus menjalani pemeriksaan di dokter atau puskesmas.
Selain KBM yang kembali berjalan, personel Unit 2 Polres Rembang juga datang ke sekolah.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Rembang dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui Loka POM Grobogan juga telah melakukan pemeriksaan.
Perwakilan BPOM Stefi menyampaikan, Kamis (3/9), pihaknya telah melakukan inspeksi ke SPPG Soditan Lasem dan kunjungan ke Puskesmas Lasem.
Kemudian, kemarin, pemeriksaan dilanjutkan dengan kegiatan epidemiologis dan pengambilan sampel MBG.
“Kami akan ambil sampel untuk dibawa ke lab di Semarang,” katanya saat ditemui di SMAN 1 Lasem kemarin.
Terkait hasil pemeriksaan laboratorium, Stefi mengatakan terdapat standar waktu pelayanan. Namun, pihaknya belum dapat memastikan kapan hasil pemeriksaan tersebut akan keluar.
Kepala SMAN 1 Lasem Juhartutik menuturkan, saat mengetahui banyak siswa mengalami mual dan diare, pihak sekolah langsung membelikan obat di Apotek Lasem.
Setelah itu, sekolah melapor ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Kemarin, masih ada 209 siswa yang absen. Sebelumnya, sebanyak 752 siswa dilaporkan mengalami mual dan diare.
“Alhamdulillah sudah banyak yang membaik dan sudah mengikuti KBM di kelas. Kami hari ini (kemarin, Red) masuk seperti biasa,” katanya.
Pasca dugaan keracunan tersebut, pihak SPPG juga datang ke sekolah. Kedatangan itu untuk menyampaikan bahwa SOP dapur telah dilaksanakan.
Pihak sekolah kemudian memberikan sejumlah masukan kepada SPPG, terutama terkait evaluasi durasi memasak hingga proses pengantaran makanan kepada penerima.
Juhartutik menambahkan, SPPG bertanggung jawab terhadap pembiayaan siswa dan guru yang sakit.
Pihaknya juga meminta SPPG tetap proaktif memantau pasien yang masih menjalani perawatan di Puskesmas Lasem maupun mengantisipasi jika terdapat tambahan siswa yang sakit.
Selain itu, pasca dugaan keracunan MBG, siswa dan guru kemarin diminta mengisi kuesioner terkait keberlanjutan program MBG di sekolah.
Mereka diminta memilih apakah ingin melanjutkan atau berhenti menerima MBG melalui formulir secara daring.
Hingga kemarin pagi, sudah sekitar 400 orang yang mengisi formulir tersebut. Hasil survei selanjutnya akan ditindaklanjuti pihak sekolah. (*/him)
Editor : Abdul Rochim