Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Kitab Kuning di Persimpangan Zaman: Santri Rembang Bertarung Lawan Dakwah Instan

Alfian Dani • Kamis, 2 Oktober 2025 | 08:02 WIB
BERKOMPETISI: Sembilan Kafilah Rembang berkompetisi di MQK nasional.(KEMENAG RBG UNTUK RADAR PATI)
BERKOMPETISI: Sembilan Kafilah Rembang berkompetisi di MQK nasional.(KEMENAG RBG UNTUK RADAR PATI)

REMBANG – Sembilan santri asal Rembang resmi berlaga di Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Nasional ke-8 di Pondok Pesantren As’adiyah, Wajo, Sulawesi Selatan.

Ajang literasi kitab kuning yang berlangsung 1–7 Oktober 2025 ini bukan hanya soal kompetisi, tapi juga soal mempertahankan warisan intelektual Islam di tengah gempuran era digital.

Para kafilah Rembang mewakili tiga jenjang pendidikan: ula (setara SD/MI), wustha (SMP/MTs), dan ulya (SMA/SMK).

Mereka tampil dalam berbagai cabang, mulai fiqih, hadis, nahwu, hingga tafsir.

Nama-nama seperti M. Minchal Mubarok, Muyassaroh, Khoridatul Bahiyyah, hingga Muhammad Nazih Zuhrul Baroqin menjadi representasi generasi muda yang berusaha meneguhkan kitab turats sebagai fondasi keilmuan.

Namun di balik semangat itu, ada realitas lain: literasi kitab kuning semakin terdesak oleh gelombang budaya instan.

Pertarungan para santri ini sekaligus simbol perlawanan terhadap tren beragama yang kian praktis, serba “instan”, dan minim rujukan mendalam.

Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Rembang, KH Ulur Rosyadi, menegaskan keikutsertaan santri di MQK bisa menjadi pemicu kebangkitan literasi turats.

“Kami berharap kafilah MQK Rembang memotivasi umat, khususnya santri, untuk mendalami kitab-kitab klasik. Turats adalah warisan ulama terdahulu yang harus dijaga,” tegasnya.

Kepala Kantor Kemenag Rembang, Moh. Mukson, yang turut mendampingi peserta, meminta doa restu masyarakat agar kafilah Rembang bisa mengharumkan nama daerah.

“Semoga mereka membawa prestasi terbaik untuk Jawa Tengah dan Kabupaten Rembang,” katanya.

Meski demikian, tantangan ke depan tetap nyata: mampukah tradisi kitab kuning bertahan di tengah derasnya arus konten dakwah instan berbasis media sosial? MQK mungkin hanya satu panggung, tetapi hasil akhirnya bisa menentukan arah: apakah turats tetap jadi rujukan utama, atau hanya sekadar simbol di tengah pergeseran zaman.(noe)

Editor : Alfian Dani
#kitab kuning #Literasi Islam #MQK Nasional #rembang #santri #turats #pesantren