REMBANG, RADARPATI.ID – PT PLN Nusantara Power UP Rembang di Sluke membutuhkan 80 ribu hektare lahan kering untuk produksi biomassa.
Lahan seluas itu untuk dapat menghasilkan produksi 300 ribu ton per tahun. Terhitung mulai 2025 hingga 2030.
Hal itu disampikan Slamet Febriyanto selaku Manager Stakeholder Management dan Koordinator Wilayah PLN Energi Primer Indonesia saat menghitung kebutuhan lahan untuk biomassa di PLTU Rembang.
“Kami berharap dengan program penanaman di Kabupaten Rembang bisa memenuhi target kebutuhan di masa tersebut,” ujarnya saat sosialisasi teknis pengembangan potensi daerah dalam mendukung energi dan pencapaian target net zero emission di lantai IV gedung Setda Rembang kemarin (15/10).
Dengan mengusung konsep pengembangan "Green Economy Village" dari Gunungkidul, Jogyakarta, ia ingin partisipasi dari elemen pemerintah daerah dan kelompok tani untuk kontribusi.
”Kami berharap tersedia lahan kritis yang belum termanfaatkan untuk pertanian atau perkebunan,” harapanya.
Menurutnya dari pengolahan lahan itu, Ia berharap dapat meningkatkan perekonomian para petani.
“Hasilnya untuk masyarakat Kabupaten Rembang langsung. Benih disediakan PLN grub. PLTU Rembang juga membantu penggunaan Fly Ash Bottom Ash (FABA), bisa digunakan sebagai pupuk untuk penanaman,” ungkapnya.
Slamet menambahkan dari luasan 1 ha bisa ditanami 2.500 bibit tanpa konsep tumpangsari dengan produksi 10-20 ton biomassa/hektare/tahun.
Baca Juga: Rencana Besar Pemkab Rembang, Percantik Alun-Alun dan TRP Kartini
“Setelah dua tahun ditanam panen tidak langsung dihabiskan, disisakan 80-1 meter. 8 bulan berikutnya bisa dilakukan panen kembali,” jelasnya.
Asisten II Setda Rembang, Mardi menyampaikan ucapan terimakasih PLN UP Rembang atas sosialisasi pengembangan lahan kering untuk mendukung transisi energi.
“Kami berharap usai sosialisasi ada tindak lanjut pengembangan potensi daerah. Transisi energi yang butuh bukan hanya PLN. Perusahaan besar lain contoh di Rembang Semen juga sama,” ujarnya. (noe/ali/amr/izza)
Editor : Syaiful Amri