REMBANG, RADARPATI.ID - Kondisi embung di Kabupaten Rembang diperkirakan masih mampu menghadapi puncak kemarau.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang telah memastikan dengan mengecek sejumlah sumber air.
Musim kemarau di Kabupaten Rembang sudah dimulai sejak bulan April, diprediksi akan berlangsung sampai lima bulan. Bulan Juli sampai dengan Agustus diperkirakan menjadi puncak kemarau.
Meski begitu, kemarau tahun ini diperkirakan tidak sepanjang tahun lalu yang mencapai 7,5 bulan.
Saat ini BPBD Rembang telah memetakan wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan yang tersebar di 14 kecamatan.
Untuk sementara, baru satu desa yang mengajukan permintaan droping air bersih.
Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan Logistik Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Rembang Puji Widodo menyampaikan, kemarau tahun ini dikategorikan kemarau basah. Sebab masih ada hujan meskipun dengan curah rendah.
Beberapa waktu lalu, pihaknya juga telah melakukan pemantauan di sejumlah embung. "Kalau di rata-rata masih 30 persen. Permukaan air tanahnya. Tetapi kalau cadangan air PDAM masih aman," katanya.
Dengan kapasitas tersebut, lanjut Puji, diperkirakan akan bisa mencukupi di masa puncak kemarau.
"Air bersihnya cukup sampai dua bulan. Apalagi kalau nanti ada hujan. Yang agak kering embung yang dipakai pertanian. Kalau yang air minum kan masih aman. Panohan aman, Lodan aman, Sudo aman," jelasnya.
Bupati Rembang Abdul Hafidz menyampaikan, pihaknya akan melakukan mekanisme pembagian untuk penyaluran air untuk kebutuhan air bersih dan pertanian.
Ia menyadari saat ini muncul reaksi masyarakat soal pembagian air.
"Petani juga harus mendapat porsi. Bahkan ada yang mengklaim bahwa 'goro-goro PDAM, pertanian tidak dapat apa-apa'. Ini yang harus kami komunikasikan," ujarnya.
Pihaknya sudah mengundang berbagai pihak untuk bermusyawarah. Ia pun sudah mengarahkan agar ada kepastian dalam hal pembagian suplai air. (vah/ali/ade)
Editor : Alfian Dani