PATI – Jumlah warga yang mengalami gejala kesehatan dalam kasus dugaan keracunan makanan (kermak) program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pati terus bertambah.
Hingga Jumat (11/9), Dinas Kesehatan (Dinkes) Pati mencatat 424 orang mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan dari SPPG Gembong 01.
Kepala Dinkes Pati Luky Pratugas Narimo mengatakan, para korban berasal dari sejumlah satuan pendidikan dan layanan masyarakat yang menerima distribusi makanan dari SPPG Gembong 01.
Mereka berasal dari SMPN 1 Gembong, MTsN 3 Pati, MTs Mambaul Ulum, SDN Gembong 03, MI Miftahul, serta Posyandu Anggrek.
Baca Juga: Polisi Selidiki Kasus Keracunan Siswa di Pati, Sampel Makanan dan Muntahan Dikirim ke Labfor
"Data terkini Jumat, 11 September 2026 cut off per jam 11.00. Jumlah korban dugaan kermak MBG SPPG Gembong 1 sebagai berikut, bergejala 424 orang," ujar Luky, Jumat (11/9).
Dari jumlah tersebut, 58 korban menjalani rawat inap di RSUD Soewondo, RS Mitra Bangsa, RS KSH, dan RS Fastabig Sehat. Sementara 322 korban menjalani rawat jalan.
Rinciannya, dari SMPN 1 Gembong terdapat 16 korban rawat inap dan 95 rawat jalan. MTsN 3 Pati mencatat 18 rawat inap dan 157 rawat jalan. Kemudian MTs Mambaul Ulum terdapat 11 rawat inap dan 11 rawat jalan.
Selanjutnya, SDN Gembong 03 mencatat satu korban rawat inap dan 38 rawat jalan. Dari MI Miftahul, satu korban menjalani rawat inap. Sedangkan Posyandu Anggrek mencatat satu korban rawat inap dan 18 rawat jalan.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sehari sebelumnya. Pada Kamis (10/9), Dinkes Pati mencatat 269 warga mengalami gejala. Data terbaru menunjukkan adanya tambahan jumlah korban yang cukup signifikan.
Luky mengatakan penambahan jumlah korban masih terus dipantau petugas kesehatan. Meski jumlahnya meningkat, seluruh pasien sejauh ini masih dapat ditangani.
"Ada penambahan yang bergejala. Sejauh ini penanganan kesehatan masih bisa tertangani," jelasnya.
Di sisi lain, kondisi sejumlah pasien rawat inap mulai membaik. Beberapa pasien yang dinilai sudah cukup sehat bahkan telah diperbolehkan pulang dan melanjutkan pemulihan melalui rawat jalan.
"Ranap juga sudah ada yang bisa pulang," pungkas Luky.
Dinkes Pati masih melakukan pemantauan serta memperbarui data secara berkala apabila terdapat laporan tambahan dari fasilitas kesehatan.
Sementara penyebab pasti munculnya gejala pada ratusan warga tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan dan pengujian laboratorium terhadap sampel makanan yang diduga berkaitan dengan kasus tersebut. (adr)
Editor : Abdul Rochim