PATI – Bangunan SD Negeri 2 Sukolilo, Kabupaten Pati, yang rusak akibat longsor sejak 2019 hingga kini belum juga diperbaiki.
Kondisi tersebut membuat guru dan siswa harus menjalani kegiatan belajar mengajar (KBM) di ruang kelas yang sudah lapuk dan sebagian atapnya ambrol.
Berdasarkan pantauan di sekolah, terdapat sembilan ruangan yang mengalami kerusakan berat.
Dua ruang kelas sudah tidak dapat digunakan karena atapnya runtuh, sedangkan enam ruang kelas lainnya masih dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar siswa kelas 1 hingga kelas 6. Satu ruangan lainnya difungsikan sebagai ruang guru.
Baca Juga: Pemkab Pati Tunggu Persetujuan BNPB untuk Perbaikan 90 Titik Tanggul Kritis Senilai Rp 75 Miliar
Selain kerusakan pada atap dan plafon yang mulai lapuk, fasilitas kamar mandi sekolah juga sudah rusak sehingga tidak dapat digunakan.
Kepala SD Negeri 2 Sukolilo, Arif Rifai, menjelaskan sekolah tersebut sebelumnya bernama SD Negeri Sukolilo 5.
Sejak proses regrouping pada 2026, sekolah berganti nama menjadi SD Negeri 2 Sukolilo.
Menurutnya, bangunan yang mengalami kerusakan paling parah berada di Dukuh Ledok, Desa Sukolilo.
Kerusakan terjadi setelah longsor pada 2019 yang menyebabkan tembok bagian belakang ruang kelas retak dan sebagian atap roboh.
"Hingga sekarang belum ada perbaikan sejak kejadian longsor itu," ujarnya.
SD Negeri 2 Sukolilo memiliki dua kompleks sekolah yang berada di Dukuh Ledok dan Dukuh Misik.
Secara keseluruhan terdapat 11 ruangan yang mengalami kerusakan, mulai kategori ringan hingga berat.
Saat ini sekolah memiliki 291 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6. Pada tahun ajaran baru, sekolah juga menerima 42 peserta didik baru.
Namun kondisi bangunan yang rusak membuat proses pembelajaran berlangsung dengan rasa khawatir.
Untuk mengantisipasi risiko, pihak sekolah meningkatkan pengawasan terhadap siswa dan melarang mereka bermain di sekitar bangunan yang mengalami kerusakan.
Ketika hujan deras turun, siswa bahkan kerap dipulangkan lebih awal karena dikhawatirkan terjadi keruntuhan bangunan.
"Kami berharap segera ada perbaikan karena kondisi bangunan sudah sangat memprihatinkan dan berisiko bagi siswa maupun guru," kata Arif.
Guru kelas V, Rifa Nashihatin, mengaku rasa khawatir selalu muncul saat proses belajar mengajar berlangsung, terutama ketika hujan.
"Kalau hujan kami semakin khawatir karena atap banyak yang bocor dan takut bangunan ambruk sewaktu-waktu," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati, Sri Handayani, mengatakan rehabilitasi sekolah tidak memungkinkan hanya mengandalkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) karena kebutuhan anggarannya cukup besar.
Menurutnya, Disdikbud Pati telah mengusulkan SD Negeri 2 Sukolilo beserta sejumlah sekolah rusak lainnya agar masuk dalam program Dana Alokasi Khusus (DAK) Revitalisasi Tahap II dari pemerintah pusat.
Pembahasan usulan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 20–22 Juli 2026 bersama kementerian terkait.
Sekolah dengan tingkat kerusakan paling berat akan diprioritaskan memperoleh bantuan rehabilitasi.
Selain itu, pihaknya juga meminta sekolah meningkatkan langkah mitigasi mengingat lokasi SD Negeri 2 Sukolilo berada di kawasan rawan longsor.
"Kami sudah mengimbau agar dilakukan upaya pencegahan longsor karena lokasi sekolah memang berada di daerah yang rawan," pungkasnya. (adr)
Editor : Abdul Rochim