PATI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati masih menunggu persetujuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait usulan penanganan sekitar 90 titik tanggul kritis.
Usulan yang diajukan sejak Januari 2026 hingga kini belum mendapat kepastian.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Pati, Widyotomo Kusdiyanto, mengatakan penanganan tanggul sebaiknya dilakukan saat musim kemarau agar lebih siap menghadapi peningkatan debit air pada musim penghujan.
Menurutnya, perbaikan seluruh titik tanggul kritis tersebut diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp75 miliar.
Baca Juga: Ratusan Kapal di Juwana Bersiap Melaut Usai Harga BBM Nelayan Turun Jadi Rp 15.000 per Liter
"Kurang lebih membutuhkan anggaran Rp75 miliar. Sampai saat ini usulan yang diajukan selama tahun 2026 masih belum ada titik terang," ujarnya.
Widyotomo menjelaskan, sebagian besar tanggul yang mengalami kondisi kritis berada di sekitar kawasan permukiman dan lahan pertanian.
Karena itu, perbaikan dinilai mendesak untuk mengurangi risiko banjir maupun kerusakan yang lebih parah saat musim hujan.
Sembari menunggu bantuan dari pemerintah pusat, DPUTR Pati akan melakukan penanganan sementara di sejumlah titik menggunakan sandbag dan cerucuk bambu.
Ia menegaskan, pembangunan tanggul permanen bukan menjadi kewenangan pemerintah kabupaten, melainkan berada di bawah Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.
Oleh karena itu, langkah yang bisa dilakukan Pemkab Pati saat ini hanya berupa penanganan semi permanen.
"Penanganannya sementara dengan sandbag dan cerucuk bambu. Untuk pembangunan tanggul sungai secara permanen menjadi kewenangan BBWS Pemali Juana, sehingga kami hanya bisa melakukan penanganan semi permanen," jelasnya.
Anggaran penanganan sementara tersebut masih bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Pati.
Mengingat keterbatasan dana, DPUTR memprioritaskan perbaikan pada tanggul yang berada di lokasi paling rawan, terutama yang berdekatan dengan permukiman warga.
Beberapa titik yang menjadi prioritas meliputi tanggul Sungai Ngresulo, Sungai Guide di wilayah Ngurensiti dan Ngurenrejo, serta tanggul Sungai Simo yang berada di jalur Pati–Juwana.
"Kami mengutamakan tanggul yang lokasinya dekat dengan permukiman warga karena dampaknya lebih besar jika terjadi kerusakan atau jebol," pungkas Widyotomo.(adr)