PATI - Banjir rob di Desa Tunggulsari Kecamatan Tayu semakin parah. Puluhan rumah di dua RT terancam tenggelam. Wilayah ini sering diterjang banjir rob dalam Dua tahun terakhir.
Total sudah lima kali banjir rob datang. Penyebabnya yakni jebolnya tanggul sepanjang 110 meter.
Dampaknya adalah puluhan rumah warga dan seratusan hektare tambak terendam air laut.
Semula, bencana hanya menggenangi wilayah RT 5/RW 1. Saat ini meluas hingga mulai merendam permukiman di RT 3/RW 1.
Baca Juga: Supervisor Penjualan Oli Shell di Pati Jadi Terdakwa Dugaan Penggelapan Miliaran Rupiah
Selain kerusakan infrastruktur, hancurnya ekosistem mangrove di kawasan pesisir turut memperparah terjangan ombak ke daratan.
"Banjir rob telah merendam seluruh rumah di RT 5 yang berjumlah 36 rumah. Banjir menyebabkan aktivitas sekitar 96 warga terganggu. Banjir rob ini sudah terjadi selama dua tahun terakhir," papar Kepala Desa Tunggulsari, Setyo Wahyudi.
Lebih lanjut kondisi banjir rob sangat parah, setiap hari rumah warga terendam air.
Selain permukiman, lanjut kepala desa, banjir rob perlahan mematikan mata pencarian 90 persen warga yang berprofesi sebagai petambak.
Dari 160 hektare lahan budi daya ikan nila, separuhnya kini tak lagi produktif karena terendam air laut.
"Akibat banjir rob ini lahan-lahan produktif petani tambak ikan nila rusak.Dari total 160 hektare itu, 80 hektare sudah rata dengan air laut,” jelas Setyo.
Dengan kondisi ini, para petambak harus menanggung kerugian besar.
Setyo menghitung, pada musim panen kali ini saja total kerugian ditaksir menyentuh angka lebih dari Rp 2 miliar, belum termasuk kerusakan aset lahan mereka.
”Kalau untuk musim ini, siklus pasang sekarang, diprediksi kerugian petani lebih dari Rp 2 miliar. Itu total keseluruhan petani tambak yang terdampak,” ungkapnya.
Warga sebenarnya sudah pernah secara swadaya memperbaiki tanggul tersebut pada 2025 lalu.
Namun, karena hantaman ombak yang kuat, tanggul kembali jebol pada Januari 2026. Warga terpaksa bergerak mandiri karena hingga kini belum ada uluran tangan dari pemerintah.
Tahun 2025 kami telah melakukan penanggulan secara swadaya. Namun pada bulan Januari lalu sudah kembali jebol dan hilang semua.
"Dari pemerintah belum ada sama sekali penanganan untuk tanggul tersebut,” terangnya.
Oleh karena itu, Setyo sangat berharap pemerintah bisa segera turun tangan membantu memperbaiki tanggul yang jebol.
Mengingat, revitalisasi infrastruktur tersebut membutuhkan biaya yang sangat besar. (aua)
Editor : Abdul Rochim