PATI – Sejumlah santri di Yayasan Ndolo Kusumo, Kabupaten Pati, dilaporkan masih enggan berpindah tempat belajar meski yayasan tersebut tengah menjadi sorotan akibat berbagai persoalan yang mencuat belakangan ini.
Faktor kenyamanan dalam proses pembelajaran hingga kuatnya pengaruh terhadap sosok pengasuh disebut menjadi alasan utama para santri tetap bertahan di lingkungan yayasan.
Beberapa mantan murid mengaku metode pengajaran yang diterapkan dinilai efektif, khususnya dalam memahami bahasa Arab dan pembacaan kitab suci.
Mereka menilai materi lebih mudah dipahami dibanding metode pembelajaran formal pada umumnya.
“Cara membaca kitabnya mudah dipahami dan lebih melekat bagi murid,” ujar salah seorang warga setempat.
Informasi yang beredar menyebutkan tujuh santri asal Kalimantan telah dipulangkan oleh pihak keluarga.
Namun, masih terdapat satu hingga dua santri yang disebut menolak dipindahkan ke tempat lain.
Baca Juga: Kiai Cabul Ashari Pati Klaim Keturunan Mbah Ndholo Kusumo Desa Tlogosari
Perwakilan pemuda setempat sekaligus aliansi santri, Ahmad Nawawi, membenarkan adanya santri yang bertahan karena pengaruh figur pengasuh yang dianggap sebagai kiai oleh sebagian masyarakat.
Menurutnya, sejumlah wali santri masih percaya anak mereka mendapatkan keberkahan selama berada di lingkungan yayasan tersebut.
Nawawi mengaku sempat berselisih pendapat dengan wali santri saat mengajak mereka melapor kepada aparat penegak hukum.
Ia juga membantah anggapan bahwa pengasuh yayasan memiliki garis keturunan wali seperti yang diyakini sebagian warga.
Selain itu, Nawawi menyebut adanya dugaan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pengasuh lain di lingkungan yayasan.
Ia juga menerima laporan mengenai bantuan dan donasi dari wali santri yang diduga tidak sepenuhnya diberikan kepada anak-anak mereka.
Sementara itu, salah satu wali santriwati mengaku kedua anaknya masih menolak pindah sekolah karena merasa nyaman dengan lingkungan belajar dan pertemanan di yayasan tersebut.
Meski demikian, pihak keluarga tetap berusaha membujuk anak-anak mereka pindah demi menghindari kemungkinan terjadinya kasus serupa.
Editor : Abdul Rochim