Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

DIBALIK KUATNYA SOSOK KIAI CABUL ASHARI PATI: Begini Asal-Usul Ponpes Ndholo Kusumo Pati, Aliran Pendanaan, hingga Klaim Nasab

Abdul Rochim • Jumat, 22 Mei 2026 | 13:19 WIB
Kiai inisial AS diduga lakukan pencabulan terhadap 50 santriwati di Tlogowungu, Pati.
Kiai inisial AS diduga lakukan pencabulan terhadap 50 santriwati di Tlogowungu, Pati.

PATI – Kompleks bangunan yang dikelola Ashari di Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, mengalami perubahan besar dalam tiga dekade terakhir.

Bangunan yang semula hanya rumah sederhana kini berkembang menjadi kawasan pendidikan dengan fasilitas cukup luas.

Warga menyebut awal mula aktivitas di lokasi tersebut dimulai sekitar tahun 1995.

Baca Juga: Kemen PPPA Lakukan Asesmen Psikologis Santri Terdampak Penutupan Ponpes Ndholo Kusumo Pati

Saat itu, bangunan masih berupa rumah warisan keluarga yang dibagi dua bersama saudaranya.

Bagian timur ditempati adiknya, Yanto, sedangkan bagian barat dan lahan belakang dimanfaatkan Ashari untuk mengumpulkan santri dan menggelar pengajian.

Pada masa awal, aktivitas di tempat itu belum dianggap sebagai pondok pesantren resmi.

Kegiatan yang berlangsung lebih menyerupai pengajian rumahan.

Namun seiring waktu, aktivitas berkembang tidak hanya mengajar mengaji, tetapi juga praktik pengobatan alternatif dan ritual spiritual seperti manaqiban.

Warga mengungkapkan salah satu sumber pemasukan kala itu berasal dari penjualan minyak khusus yang dijadikan syarat “mahar” bagi masyarakat yang meminta bantuan spiritual.

Harga minyak tersebut disebut mencapai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per botol, nominal yang tergolong besar pada era 1990-an.

Bertambahnya jumlah pengikut membuat bangunan terus diperluas untuk menampung santri perempuan yang tinggal di bagian belakang rumah. Di saat bersamaan, muncul berbagai ajaran yang dinilai menyimpang oleh warga sekitar.

Salah satu hal yang memicu kecurigaan warga adalah adanya perilaku yang dianggap tidak wajar terhadap santri perempuan.

Warga mengaku tanda-tanda perilaku tersebut sebenarnya sudah muncul sejak lama, namun masyarakat kala itu tidak berani bersuara.

Baca Juga: ANOMALI! Telah Terjadi Kasus Dugaan Pencabulan, Sejumlah Santri Enggan Pindah dari Ponpes Ndholo Kusumo Pati

Kini, kompleks tersebut berdiri megah berbentuk huruf “U” di atas lahan warisan keluarga.

Di dalamnya terdapat fasilitas pendidikan formal seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang masih terus dikembangkan.

Meski secara fisik tampak seperti lembaga pendidikan besar, sebagian warga mempertanyakan legalitas dan perizinan yayasan karena dinilai tertutup dan eksklusif.

Warga juga mengingat bahwa Ashari pernah diusir pada 2008 akibat isu asusila, sebelum akhirnya kembali beberapa tahun kemudian dengan kemampuan ekonomi yang lebih besar.

Selain dikenal sebagai pengajar agama, Ashari disebut membangun legitimasi spiritual dengan mengklaim dirinya sebagai keturunan langsung tokoh setempat, Mbah Ndholo Kusumo, melalui garis keturunan Hasan.

Klaim tersebut disebut digunakan untuk memperkuat pengaruhnya di mata pengikut.

Warga mengakui Ashari memiliki kemampuan mengajar kitab klasik yang baik, khususnya kitab Imriti. Sejumlah mantan murid menilai metode pengajarannya mudah dipahami dan lebih membekas dibanding pembelajaran formal saat itu.

Riwayat pendidikannya juga disebut cukup kuat karena pernah belajar kepada seorang kiai di Trangkil yang dikenal disiplin dalam pengajaran agama dan tarekat.

Selain itu, ia disebut memiliki jalur tarekat yang terhubung hingga Surabaya melalui jalur Jati Romo.

Namun seiring waktu, narasi spiritual dan mistis mulai berkembang di lingkungan pengikutnya.

Warga menyebut pengikut fanatik kerap didoktrin untuk tidak mempertanyakan tindakan pimpinan pondok meski dianggap tidak wajar.

Di sisi lain, keberadaan pesantren tersebut juga menimbulkan pertanyaan soal sumber pendanaan.

Warga menduga terdapat aliran dana besar yang menopang operasional yayasan, termasuk donasi rutin dari para pengikut yang bekerja di luar daerah seperti Kalimantan.

Tak hanya uang, beberapa pengikut disebut menyerahkan aset pribadi seperti sertifikat tanah karena pengaruh doktrin kepatuhan kepada pimpinan pondok.

Kondisi itu membuat kehidupan pimpinan yayasan dinilai jauh lebih mapan dibanding sebagian pengikutnya.

Warga juga menduga adanya dukungan dari sejumlah tokoh berpengaruh yang membuat aktivitas kelompok tersebut tetap berjalan.

Nama oknum aparat hingga tokoh lokal disebut memiliki kedekatan dengan yayasan.

Selain itu, yayasan tersebut pernah memiliki media dakwah berupa Radio Ndolo Kusumo yang digunakan untuk menyiarkan kajian keagamaan pada waktu tertentu.(adr)

 
 
Editor : Abdul Rochim
#Ndholo Kusumo Pati #Ashari Pati #pondok pesantren Pati #dugaan aliran dana #yayasan Tlogosari