PATI – Aktivitas pembangunan fasilitas pendidikan milik Ashari di Desa Tlogosari kembali menjadi sorotan warga.
Keberadaan pesantren tersebut memunculkan kecurigaan terkait sumber pendanaan hingga dugaan adanya perlindungan dari pihak berpengaruh.
Warga menilai, meski sempat mendapat penolakan dan diterpa berbagai isu skandal asusila di masa lalu, kelompok tersebut tetap mampu bertahan dan terus berkembang.
Sejumlah warga menduga ada aliran dana besar yang menopang operasional pondok pesantren tersebut.
Informasi yang beredar menyebutkan donasi rutin dari para pengikut mencapai ratusan juta rupiah setiap bulan.
Salah satu sumber dana disebut berasal dari para pengikut yang bekerja di luar daerah, terutama di Kalimantan.
Mereka dikabarkan rutin mengirimkan uang untuk mendukung kegiatan pondok.
Selain donasi, warga juga mengungkap adanya pengikut yang menyerahkan aset pribadi seperti sertifikat tanah karena pengaruh doktrin kepatuhan penuh kepada pimpinan pondok.
Menurut warga, kondisi tersebut membuat kehidupan pimpinan pondok terlihat jauh lebih mapan dibanding sebagian besar pengikutnya.
Tak hanya soal pendanaan, warga juga menduga adanya dukungan dari sejumlah tokoh berpengaruh yang membuat aktivitas kelompok tersebut tetap berjalan.
Nama oknum aparat hingga tokoh lokal disebut-sebut memiliki kedekatan dengan yayasan tersebut.
Warga juga menyinggung adanya jaringan donasi dari kalangan pengusaha perikanan di wilayah Juwana yang disebut membantu pembangunan fasilitas pendidikan, termasuk sekolah baru di sekitar lokasi pondok.
Keberadaan jaringan tersebut dinilai membuat aktivitas pondok seolah sulit tersentuh meski warga beberapa kali mengeluhkan dugaan penyimpangan dan kasus pelecehan.
Selain itu, kelompok tersebut juga disebut pernah memiliki media dakwah berupa Radio Ndolo Kusumo yang digunakan untuk menyiarkan kajian keagamaan pada waktu tertentu. (adr)