JEPARA — Antrean pembelian bahan bakar minyak (BBM) terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Kota Jepara, Selasa (31/3).
Kepadatan paling terlihat di SPBU 44.594.22 Krapyak.
Di lokasi tersebut, antrean kendaraan, terutama sepeda motor, tampak mengular cukup panjang.
Berdasarkan pantauan, antrean roda dua di jalur pengisian Pertalite mencapai sekitar 40 unit.
Baca Juga: Tradisi Lomban Jepara: Ribuan Kupat Lepet Diperebutkan Warga di Pantai Kartini
Lonjakan terjadi selepas waktu Zuhur, saat aktivitas masyarakat sedang tinggi, mulai dari pekerja yang istirahat, pelajar, hingga warga yang hendak melanjutkan kegiatan harian.
Tak hanya panjang, antrean juga bergerak lambat. Setiap pengendara bahkan membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke nozzle pengisian.
Akibatnya, sebagian pengendara memilih membatalkan niat mengisi BBM dan memutar balik karena tidak ingin menunggu terlalu lama.
Selain faktor jam sibuk, isu kenaikan harga BBM menjelang 1 April 2026 diduga turut mendorong meningkatnya pembelian masyarakat.
Baca Juga: Pemkab Jepara Rancang OPD Pendapatan Baru untuk Optimalkan PAD
Ketua Paguyuban SPBU Jepara, M. Chairudin Ardy, menyatakan hingga saat ini belum ada informasi resmi terkait perubahan harga BBM nonsubsidi.
"Sampai saat ini SPBU belum menerima informasi resmi, terkait perubahan harga per 1 April," ujarnya, Selasa (31/3).
Ia menyebut, masyarakat memang mulai banyak bertanya soal kabar kenaikan harga, terutama untuk Pertalite dan solar.
"Prediksinya memang ada perubahan untuk produk nonsubsidi, Pertamax dan Dex series, terkait detail perubahannya masih menunggu informasi dari Pertamina," ucapnya.
Menurutnya, BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar diperkirakan masih tetap pada harga semula. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying sambil menunggu kepastian resmi.
Sementara itu, Manajer SPBU Pertamina 44.594.09 Mulyoharjo, M. Syukron Ni’am, memastikan pelayanan tetap berjalan normal.
“Aman, lancar, tiada kendala berarti, sesuai permintaan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pihaknya juga belum menerima pemberitahuan resmi terkait kebijakan harga dari Pertamina.
"Biasanya update resmi disampaikan sekitar pukul 22.00 melalui website Pertamina. Untuk saat ini belum ada informasi terbaru,” imbuhnya.
Penegasan serupa disampaikan Area Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan.
“Hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai harga BBM per 1 April 2026. Informasi yang beredar di luar saluran resmi (Pertamina) tidak dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Pihaknya mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan. Pertamina juga mengingatkan pentingnya penggunaan energi secara bijak di tengah meningkatnya kebutuhan nasional.
Di sisi lain, dampak psikologis dari isu kenaikan harga BBM juga dirasakan warga, termasuk di wilayah pegunungan dan kepulauan.
Lusi Noor Christina (25), warga Desa Tempur, Kecamatan Keling, menilai kenaikan BBM berpotensi menambah beban ekonomi masyarakat.
Di tingkat pengecer, harga Pertalite disebut mencapai Rp 13 ribu, sementara Pertamax bisa menyentuh Rp 15 ribu per liter.
“Kalau BBM naik, otomatis harga barang juga ikut naik. Di sini saja harga sudah cukup tinggi, apalagi daerah wisata atau wilayah yang jauh dari pusat distribusi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, banyak pelaku usaha kecil bergantung pada kendaraan untuk distribusi barang, baik menggunakan sepeda motor maupun mobil bak terbuka.
“Kalau jualan kecil masih bisa pakai motor. Tapi kalau untuk kebutuhan toko besar, pasti pakai mobil. Nah, itu kan sangat bergantung pada BBM,” jelasnya.
Menurutnya, kenaikan harga kebutuhan tidak sebanding dengan pendapatan masyarakat yang masih berkisar di level upah minimum.
“Pendapatan banyak yang masih setara UMR luar, tapi harga barang terus naik. Jadi memang terasa cukup berat,” katanya.
Meski demikian, sebagian warga masih terbantu oleh potensi sumber daya alam, seperti pertanian kopi.
Antrean panjang juga dilaporkan terjadi di Karimunjawa. Warga, khususnya nelayan, sangat bergantung pada Pertalite untuk melaut, mencari cumi, hingga budidaya rumput laut.
Warga Desa Kemujan, Bambang Zakaria, berharap selain harga yang stabil, ada kebijakan khusus terkait distribusi BBM di wilayah kepulauan.
“Ya, kami di kepulauan sini (Desa Kemujan, Karimunjawa) sangat bergantung dengan BBM. Tidak hanya nelayan, tapi juga warga secara umum. Tidak mungkin hanya menggunakan sepeda onthel kayuhan. Jalan naik turun, jarak jauh,” pungkasnya.
Antrean panjang BBM di Jepara ini tidak hanya mencerminkan tingginya kebutuhan energi, tetapi juga kekhawatiran masyarakat terhadap stabilitas harga dan daya beli di tengah isu yang berkembang. (fik)