PATI – Satlantas Polresta Pati mulai menggelar Operasi Keselamatan Candi 2026 dengan menitikberatkan pendekatan preemtif dan preventif.
Sementara porsi penindakan hukum dibatasi hanya sekitar 20 persen.
Operasi yang berlangsung selama 14 hari, mulai 2 hingga 15 Februari 2026 ini bertujuan menekan angka pelanggaran serta kecelakaan lalu lintas di wilayah Kabupaten Pati.
Kasatlantas Polresta Pati Kompol Riki Fahmi Mubarok menjelaskan, Operasi Keselamatan Candi 2026 difokuskan pada kegiatan cipta kondisi melalui pendekatan preemtif, preventif, dan represif.
Langkah tersebut dilakukan untuk menekan potensi gangguan, ambang gangguan, maupun gangguan nyata yang dapat memicu pelanggaran serta kecelakaan lalu lintas.
Operasi ini juga menjadi bagian dari kesiapan dalam menghadapi Operasi Lilin Candi yang akan dilaksanakan satu bulan ke depan.
"Mobilitas masyarakat diperkirakan meningkat, sehingga keselamatan lalu lintas harus dipersiapkan sejak dini,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan preventif menjadi porsi terbesar, yakni 40 persen.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah koordinasi dengan berbagai instansi dan stakeholder terkait.
Khususnya untuk memastikan kesiapan infrastruktur jalan dan rambu-rambu lalu lintas.
Satlantas Polresta Pati juga telah memetakan titik-titik jalan yang mengalami kerusakan sebagai bahan tindak lanjut.
Sementara itu, untuk penegakan hukum, porsinya dibatasi sekitar 20 persen.
“Harapannya, dengan lebih mengedepankan upaya preemtif dan preventif, angka pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas bisa ditekan,” tambahnya.
Terkait balap liar, Kompol Riki menyebutkan bahwa penanganannya akan disesuaikan dengan karakteristik wilayah Kabupaten Pati.
Upaya yang dilakukan dapat berupa pembinaan, patroli, hingga penegakan hukum jika diperlukan.
Dalam Operasi Keselamatan Candi 2026, penindakan pelanggaran lalu lintas juga dilakukan melalui penerapan Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE).
Untuk saat ini, Satlantas Polresta Pati masih mengedepankan ETLE mobile, di mana anggota menggunakan perangkat handphone untuk mendokumentasikan pelanggaran di lapangan.
“ETLE statis memang belum ada, namun untuk ETLE mobile atau hand held sudah dimiliki seluruh anggota. Jadi bisa dilakukan sambil patroli, termasuk saat anggota menggunakan sepeda motor,” jelasnya.
Sementara itu, apel gelar pasukan juga diisi dengan amanat Kapolda Jawa Tengah yang dibacakan oleh Kompol Anwar.
Dalam amanat tersebut disampaikan bahwa dinamika permasalahan lalu lintas terus berkembang seiring meningkatnya jumlah kendaraan bermotor, pertumbuhan penduduk, serta pesatnya kemajuan transportasi berbasis digital.
“Kondisi ini menuntut Polri, khususnya fungsi lalu lintas, untuk terus berinovasi dan menghadirkan pelayanan yang presisi, prediktif, responsibel, dan berkeadilan,” ujarnya.
Ia menegaskan, apel gelar pasukan memiliki peran strategis untuk memperkuat sinergi dan koordinasi lintas sektoral agar pelaksanaan operasi berjalan efektif dan optimal.
Operasi Keselamatan Candi 2026 sendiri digelar sebagai upaya cipta kondisi menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
“Fokus utama operasi adalah pencegahan kecelakaan melalui edukasi, pengawasan, serta penegakan hukum yang mengedepankan pendekatan humanis,” lanjutnya.
Menutup amanat, Kompol Anwar berpesan kepada seluruh personel agar menjaga integritas, menghindari tindakan kontraproduktif, serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Laksanakan tugas dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab.
"Jadikan Operasi Keselamatan Candi 2026 sebagai momentum membangun budaya tertib berlalu lintas dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap Polri,” pungkasnya. (adr/him)
Editor : Abdul Rochim