PATI – Banjir parah yang melanda Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus, membuat aktivitas warga lumpuh.
Sejumlah ruas jalan desa tidak dapat dilalui kendaraan kecil, sehingga warga hanya bisa mengandalkan transportasi perahu untuk beraktivitas.
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Desa Mintobasuki menyediakan layanan transportasi gratis bagi warga yang hendak bersekolah maupun bekerja ke luar desa.
Layanan ini menggunakan perahu milik desa dan dibantu perahu milik warga.
Sekretaris Desa Mintobasuki, Abdul Mustaji, menjelaskan bahwa fasilitas ini bertujuan meringankan beban warga yang harus menempuh jarak cukup jauh dengan berjalan kaki di tengah genangan air.
“Desa memfasilitasi warga, terutama anak sekolah dan pekerja. Kami antar jemput gratis menggunakan perahu milik desa. Kasihan kalau harus berjalan kaki sejauh dua kilometer. Perahu ini mengantar warga menuju jalan raya dekat Jembatan Ngantru,” ujar Abdul.
Saat banjir, kendaraan sepeda motor milik warga terpaksa diungsikan ke pinggir jalan di Dukuh Ngantru.
Hal ini disebabkan sebagian besar wilayah Desa Mintobasuki terendam banjir akibat luapan Sungai Silugonggo.
Berdasarkan data pemerintah desa, sedikitnya 241 rumah terendam banjir, dengan total dampak mencapai 313 kepala keluarga atau sekitar 800 jiwa.
Ketinggian air di dalam rumah berkisar antara 5 hingga 60 sentimeter, sementara di jalan mencapai 5 hingga 90 sentimeter, sehingga sepeda motor tidak dapat melintas.
“Perahu milik desa saat ini ada satu unit. Karena permintaan warga cukup banyak, kami juga meminjam perahu milik warga. Perahu desa ini merupakan pengadaan tahun 2024 melalui dana desa. Untuk operasional tahun 2026, kami sudah menganggarkan biaya BBM dan operator. Tahun ini kami juga berencana menambah satu unit perahu lagi,” jelas Abdul.
Ia menambahkan, pemerintah desa telah menginformasikan kepada warga bahwa siapa pun yang membutuhkan layanan ini bisa langsung menghubungi pihak desa.
Saat ini tersedia dua jadwal perjalanan, yakni pukul 05.30 WIB untuk anak sekolah dan pekerja, serta pukul 06.30 WIB.
Awalnya, satu perahu hanya mampu mengangkut sekitar 20 orang. Namun, setelah layanan ini diketahui masyarakat, jumlah peminat terus meningkat. Pada Senin (19/1/2026), jumlah warga yang ingin diantar bahkan melebihi kapasitas perahu.
“Pada Minggu (11/1/2026), kami mendata warga yang ingin berangkat di trip pertama pukul 05.30 WIB. Ternyata jumlahnya lebih dari 30 orang,” ungkap Abdul.
Karena jumlah penumpang terus membludak, pihak desa terpaksa meminjam perahu berukuran lebih besar dari warga sekitar.
Pada pagi hari tersebut, total tiga perahu digunakan untuk mengantar warga, terdiri dari satu perahu milik desa dan dua perahu milik warga. (aua)
Editor : Achmad Ulil Albab