PATI, RADARPATI.ID – Desa Panggungroyom terletak di Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati.
Desa ini berbatasan langsung dengan Desa Wedarijaksa di sebelah Utara, Desa Jontro di sebelah Timur, Dukuh Rames di sebelah Selatan, dan Desa Suwaduk di sebelah Barat.
Hampir setiap penamaan desa mempunyai cerita sejarah atau asal-usulnya. Tak banyak juga warga yang mengetahui cerita asal-usul desanya.
Hanya orang tertentu yang mengetahui bagaimana asal-usulnya. Berikut cerita sejarah dan asal-usul Desa Panggungroyom Kecamatan Wedarijaksa Pati. Cerita ini dituturkan oleh Kepala Desa Panggungroyom, Hadi saat diwawancara Jumat (9/2).
Dahulu di sebelah timur Gunung Muria ada Kerajaan yaitu Kerajan Carang Soko atau Kadipaten Carang Soko dipimpin oleh Adipati Puspa Andum Jaya.
Adipati Puspa Andum Jaya mempunyai seorang putri bernama Dewi Rayung Wulan. Di sebelah Timur Kadipaten Carang Soko berdiri sebuah kadipaten yang makmur bernama Kadipaten Parang Garuda dipimpin oleh Adipati Yudha Pati.
Adipati Yudha Pati mempunyai seorang putra bernama Raden Jaya Sari.
Raden Jaya Sari tidaklah tampan dan cacat dalam berbicara. Suatu hari terjadi perjodohan antara Raden Jaya Sari dengan Dewi Rayung Wulan. Rayung Wulan tidak menyukai Raden Jaya Sari.
Namun, Rayung Wulan harus tetap menjalankan perjodohan ini. Saat pernikahannya nanti Rayung Wulan minta ada pertunjukan wayang kulit dengan Dalang Soponyono.
Di pelaminan pengantin nampak kedua mempelai sudah bersanding berdua, Raden Jaya Sari terlihat bahagia dan sangat gembira karena akan mempunyai istri yang sangat cantik jelita.
Dengan gemasnya tangan Raden Jaya Sari sesekali mencubit, memegang dan mengelus-elus tangan Dewi Rayung Wulan. Sebaliknya Rayung Wulan terlihat sangat sedih.
Terlihat dari raut muka yang terkadang meneteskan air mata. Malam yang ditunggu-tungu pun tiba, saatnya pagelaran wayang kulit segera dimulai.
Terlihat Dalang Soponyono, Ambar Wati dan Ambar Sari (sebagai sindennya) sudah berada di panggung. Dimulailah pagelaran wayang kulit yg rencananya akan digelar semalam suntuk.
Dalang Soponyono sangat lihai dan cekatan memainkan wayang kulit,sehingga seluruh penonton turut larut dalam cerita yang bernuansa sedih itu.
Sebelum pagelarandimulai Rayung Wulan berpesan kepada Dalang Soponyono dan minta cerita di pagelaran wayang kulit sama dengan apa yang dialami dirinya.
Malam mulai larut penonton masih menimati pertunjukan wayang, bahkan bertambah. Tiba-tiba Rayung Wulan turun dari pelaminan pengantin dan mendekati Dalang Soponyono.
Rayung Wulan berbisik agar dia dibawa kabur dan tidak mau mati. Dalang Soponyono kaget dengan permintaan itu.
Tanpa berfikir panjang Dalang Soponyono bertepuk 3 kali dan saat itu pula semua obor padam dan menjadi gelap gulita.
Keadaan jadi ramai dan gempar. semua prajurit pada bingung dan saling bertanya "Ada apa ini. Ada apa ini". Dengan kesempatan ini, Soponyono secepat kilat memegang tangan kedua adiknya Ambar Wati dan Ambar Sari lari keluar dari keramaian itu.
Mereka berempat yaitu Soponyono, Rayung Wulan, Ambar Wati dan Ambar Sari lari ke arah Barat.
Belum sampai berlari jauh Dewi Rayung Wulan menangis dan masih memegang tangan Dalang Soponyono sambil berucap "Kakang Soponyono, kenapa nasibku ini Keroyo-royo kakang? Apa salah dan dosa ku"
Dalang Soponyono pun menjawab dengan halus "Mungkin ini sudah takdir dewi. Mungkin ini cobaan dari Sang Hyang Widisedang menguji dewi".
Adik Soponyono juga ikut menenangkan Dewi Rayung Wulan supaya tidak menangis lagi. Setelah Rayung Wulan terdiam,Dalang Soponyono kemudian berkata."Untuk mengingatkan kejadian ini maka sebutlah tempat ini Koroyo”.
Dalam cerita ini, saat pelarian Dalang Soponyono membuat beberapa petilasan. Petilasan manggung atau sekarang menjadi Dukuh Panggung. Petilasan blencong atau sekarang menjadi dukuh Blencongan, yang katanya berasal dari peristiwa jatuhnya blencong Dalang Soponyono saat lari dengan rombongannya.
Ada juga petilasan Waru Ndhekem, yang katanya dahulu buat tempat istirahat Dalang Soponyono dan rombongan.
“Iya begitulah mas ceritanya. Cerita ini turun temurun dari nenek moyang, tidak tahu siapa pencetusnya karena cerita ini tersebar melalui mulut-mulut. Ada juga kepercayaan di dukuh Panggung tidak boleh menggerlar pertunjukan wayang kulit, jadi saat sedekah bumi dukuh panggung menggelar Kethropak. Dan ini masih dipercaya sampai sekarang. Harapanya anak-anak sekarang tahu asal-usul desanya,” terangnya.