Anak Krakatau Erupsi, Megathrust Selat Sunda Semakin Perlu Diwaspadai

Zakarias Fariury • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 09:11 WIB
Peta Zona Megathrust
Peta Zona Megathrust

RADARPAT.JAWAPOS.COM - Meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang terjadi beriringan dengan serangkaian gempa kerak dangkal di Jawa Barat kembali mengarahkan perhatian publik pada kompleksitas tatanan tektonik Indonesia.

Pembaruan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 mencatat adanya perluasan pemetaan hingga 14 titik zona megathrust, dengan fokus perhatian utama pada area seismic gap di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.

Kendati fenomena erupsi vulkanik dan guncangan tektonik sering terjadi dalam kurun waktu berdekatan, para pakar mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Pemahaman berbasis data ilmiah sangat diperlukan agar publik terhindar dari kepanikan maupun narasi penyesatan (fear mongering).

Baca Juga: Banyak Gunung Erupsi dan Gempa, Tanda Megathrust? Cek 14 Zona-nya

Kompleksitas Ancaman Tektonik: Megathrust vs Sesar Aktif Darat

Kawasan Jakarta, Banten, dan Jawa Barat berdiri di atas zona transisi tektonik yang sangat aktif akibat penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa kawasan ini diapit oleh dua bentuk ancaman seismik dengan karakteristik berbeda:

Gempa Megathrust (Lepas Pantai): Berada di zona subduksi dangkal lepas pantai selatan Jawa dan Selat Sunda. Zona ini menyimpan akumulasi energi yang berpotensi melepaskan gempa interaksi antar-lempeng (interplate) hingga magnitudo M8,7–M9,1 yang berisiko memicu gelombang tsunami.

Gempa Kerak Dangkal / Sesar Aktif (Daratan): Dipicu oleh jaringan patahan di daratan seperti Sesar Lembang, Sesar Baribis, Sesar Cimandiri, Sesar Cugenang, dan Sesar Garsela. Walau magnitudonya berada di skala menengah (M5,0–M6,5), gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake) dapat menghasilkan guncangan kuat (high peak ground acceleration) yang berdampak merusak pada kawasan padat penduduk.

Selain itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi segmen Selat Sunda dan Mentawai-Siberut sebagai area seismic gap. Istilah seismic gap menggambarkan zona tektonik aktif yang sudah lama tidak melepaskan gempa berskala besar (Selat Sunda terakhir tercatat pada 1757, sedangkan Mentawai-Siberut pada 1797).

Baca Juga: SIAGA! Banyak Gunung Mulai Erupsi, Tanda Megathrust Semakin Dekat

BMKG menegaskan bahwa status seismic gap merujuk pada akumulasi energi tektonik yang masih tersimpan, bukan prediksi bahwa gempa raksasa dipastikan meletus dalam waktu dekat. Hingga saat ini, belum ada teknologi di dunia yang mampu memprediksi hari, jam, dan lokasi pasti terjadinya gempa bumi.

Proyeksi Magnitudo Maksimum ($M_{max}$) di Segmen Utama

Berdasarkan data pemutakhiran Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) dan BMKG, berikut adalah rincian proyeksi magnitudo maksimum di sejumlah segmen megathrust utama:

Segmen Aceh – Andaman (Utara Sumatra)

Proyeksi $M_{max}$: M9,2

Catatan Riset: Merupakan area subduksi panjang dengan riwayat sejarah gempa dan tsunami dahsyat pada tahun 2004.

Segmen Jawa (Selatan-Barat)

Proyeksi $M_{max}$: M9,1

Catatan Riset: Membentang di selatan Pulau Jawa dan berpotensi memicu gelombang tsunami di sepanjang garis pantai selatan.

Segmen Mentawai – Siberut (Barat Sumatra)

Proyeksi $M_{max}$: M8,9

Catatan Riset: Berada dalam fase seismic gap panjang sejak melepaskan energi besarnya pada tahun 1797.

Segmen Selat Sunda (Antara Sumatra & Jawa)

Proyeksi $M_{max}$: M8,7 – M8,9

Catatan Riset: Berada di kawasan transisi tektonik yang berpotensi berdampak guncangan hingga wilayah Banten dan DKI Jakarta.

Langkah Strategis Mitigasi Bencana

Pakar geofisika dari Hokkaido University, Prof. Kosuke Heki, menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS) serta pemantauan geodesi dasar laut. Langkah ini ditujukan untuk mendeteksi slow slip events (pergeseran lambat) guna memetakan akumulasi tegangan lempeng secara presisi.

Di tingkat tapak, masyarakat diimbau untuk memahami prosedur penyelamatan diri standar dari BMKG saat merasakan guncangan gempa bumi melalui prinsip DROP – COVER – HOLD ON:

DROP (Merunduk): Jatuhkan posisi tubuh ke lutut untuk menjaga keseimbangan dan mencegah tubuh terjatuh akibat guncangan mendadak.

COVER (Berlindung): Lindungi kepala dan leher menggunakan lengan, lalu merayaplah ke bawah meja atau furnitur yang kokoh guna menghindari reruntuhan material.

HOLD ON (Pegang Erat): Pegang erat kaki meja tempat berlindung hingga guncangan benar-benar berhenti dan situasi dipastikan aman untuk keluar dari bangunan. (*)

Editor : Zakarias Fariury
zona megathrust sesar aktif anak krakatau bmkg megathrust