Banyak Gunung Erupsi dan Gempa, Tanda Megathrust? Cek 14 Zona-nya

Zakarias Fariury • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 09:07 WIB
Peta Zona Megathrust
Peta Zona Megathrust

RADARPATI.JAWAPOS.COM - Indonesia kembali memperbarui peta risiko kegempaan nasional seiring tingginya dinamika tektonik di wilayah Nusantara.

Terapit di antara empat lempeng tektonik utama dunia—Lempeng Eurasia, Indo-Australia, Laut Filipina, dan Pasifik—wilayah Indonesia dilintasi jalur subduksi raksasa sepanjang kurang lebih 9.000 kilometer dari kawasan barat hingga timur.

Untuk memetakan ancaman tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) resmi menerbitkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024.

Baca Juga: WASPADA! Gunung Anak Krakatau Erupsi, Siaga 1 Megathrust?

Dokumen ini menjadi pemutakhiran ketiga dalam kurun 14 tahun terakhir, setelah penerbitan peta serupa pada tahun 2010 dan 2017.

Dalam kajian geologi dan seismotektonik, gempa subduksi secara umum terbagi menjadi gempa Benioff (intraslab) dan gempa megathrust (interface).

Gempa megathrust terjadi pada bidang kontak antarlempeng di kedalaman relatif dangkal—kurang dari 50 kilometer—yang mampu menyimpan akumulasi energi besar dalam jangka waktu lama serta berpotensi kuat memicu gelombang tsunami.

Evolusi Sains: Mengapa Jumlah Zona Megathrust Berubah?

Perubahan jumlah maupun klasifikasi zona megathrust dalam peta 2024 mencerminkan perkembangan riset dan penemuan data tektonik baru. Pemutakhiran ini mencakup revaluasi geologi di wilayah Indonesia bagian timur.

Baca Juga: SIAGA! Banyak Gunung Mulai Erupsi, Tanda Megathrust Semakin Dekat

Sebagai contoh, Sesar Naik Halmahera dan Sangihe yang sebelumnya dimasukkan ke dalam kategori megathrust Laut Maluku, kini diidentifikasi sebagai hasil deformasi dari zona kolisi (collision zone) antara Busur Halmahera dan Busur Sangihe.

Selain itu, Megathrust Papua yang tercantum pada peta 2010 dan 2017 kini dimodelkan ulang sebagai sistem sesar naik North Papua Thrust.

Rincian 14 Segmen Megathrust dan Potensi Magnitudo Maksimum ($M_{max}$)

Mengacu pada pemodelan PuSGeN 2024, berikut adalah rincian 14 segmen megathrust yang teridentifikasi berpotensi berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap wilayah Indonesia:

Megathrust Aceh-Andaman

Potensi Maksimum: M9,2

Karakteristik & Riwayat: Memiliki bentang jalur sepanjang 1.300 km dengan estimasi $M_{max}$ tertinggi. Pernah memicu gempa dan tsunami dahsyat Aceh 2004 ($M_w$ 9,15).

Megathrust Nias-Simeulue

Potensi Maksimum: M8,7

Karakteristik & Riwayat: Mencatat riwayat gempa destruktif historis, di antaranya Gempa Nias 1861 ($M_w$ 8,5) dan Gempa Nias-Simeulue 2005 ($M_w$ 8,7).

Megathrust Batu

Potensi Maksimum: M7,8

Karakteristik & Riwayat: Memiliki panjang segmen sekitar 70 km. Catatan sejarah merekam gempa besar di Kepulauan Batu pada tahun 1935 ($M_w$ 7,7).

Megathrust Mentawai-Siberut

Potensi Maksimum: M8,9

Karakteristik & Riwayat: Berada di lepas pantai barat Sumatra, segmen ini tercatat memicu serangkaian gempa destruktif Sumatra pada tahun 1797 dan 1833.

Megathrust Mentawai-Pagai

Potensi Maksimum: M8,9

Karakteristik & Riwayat: Menjadi pusat dari beberapa peristiwa penting, seperti Gempa Bengkulu 2007 ($M_w$ 8,5) dan Gempa Tsunami Mentawai 2010 ($M_w$ 7,8).

Megathrust Enggano

Potensi Maksimum: M8,9

Karakteristik & Riwayat: Mengalami resegmentasi dalam peta 2024 setelah sebagian area Selat Sunda digabungkan ke dalamnya, menghasilkan bentang segmen sepanjang 420 km.

Megathrust Jawa

Potensi Maksimum: M9,1

Karakteristik & Riwayat: Membentang sepanjang 1.120 km di lepas pantai selatan Jawa, memodelkan potensi pelepasan energi secara komprehensif di sepanjang busur Jawa.

Megathrust Jawa Bagian Barat

Potensi Maksimum: M8,9

Karakteristik & Riwayat: Memiliki bentang sekitar 670 km. Pemodelan memperhitungkan catatan historis Gempa Batavia tahun 1699 dan 1780 ($M_w$ 8,5).

Megathrust Jawa Bagian Timur

Potensi Maksimum: M8,9

Karakteristik & Riwayat: Memiliki jalur sepanjang 450 km. Riwayat kegempaannya mencakup Gempa Jawa 1903 ($M_w$ 8,1) dan Gempa Tsunami Pangandaran 2006 ($M_w$ 7,8).

Megathrust Sumba

Potensi Maksimum: M8,5

Karakteristik & Riwayat: Membentang sepanjang 630 km. Aktivitas seismik kuat tercatat pada tahun 1916 ($M_w$ 7,2) serta Gempa Tsunami Banyuwangi 1994 ($M_w$ 7,8).

Megathrust Lengan Utara Sulawesi

Potensi Maksimum: M8,5

Karakteristik & Riwayat: Jalur sepanjang 550 km di utara Sulawesi. Pernah memicu gempa kuat historis tahun 1538, 1877, Gempa Tolitoli 1996, dan Gempa Minahasa 2008 ($M_w$ 7,4).

Palung Cotabato (Filipina)

Potensi Maksimum: M8,3

Karakteristik & Riwayat: Berpanjang 310 km di Mindanao, Filipina. Dimasukkan dalam pemodelan PuSGeN karena lokasinya yang sangat berdekatan dengan wilayah Indonesia utara.

Filipina Selatan (Filipina)

Potensi Maksimum: M8,2

Karakteristik & Riwayat: Bagian dari sistem Megathrust Filipina sepanjang 550 km. Dampak guncangannya tercatat pernah menjangkau wilayah teritorial Indonesia pada tahun 1924.

Filipina Tengah (Filipina)

Potensi Maksimum: M8,1

Karakteristik & Riwayat: Memiliki bentang jalur sekitar 370 km. Turut dimodelkan karena potensi rambatan dampaknya yang dapat memengaruhi kawasan utara Nusantara.

Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 ini diharapkan menjadi acuan teknis utama bagi kementerian, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan dalam merumuskan standar tata ruang berbasis mitigasi bencana serta memperkuat standar keandalan infrastruktur bangunan tahan gempa di seluruh Indonesia. (*)

Editor : Zakarias Fariury
zona megathrust sesar aktif anak krakatau bmkg megathrust